Posts

Togtherness

Image
  “Marriage is a bond between a person who never remembers anniversaries and another who never forgets them.” Anonymous Ketika merencanakan pernikahan dulu, tanggal menjadi pertimbangan utama. Bapak dan ibu inginnya saya menikah dimana keluarga besar bisa hadir tentunya. Kalau si abi sih kapan saja, pokoknya secepatnya...hahaha. Kalau saya inginnya tanggal cantik dan spesial, jadi harus dipikirkan betul. Pilihan menarik adalah menikah di hari kelahiran saya atau abi. Kalau saat itu tahu sudah ada World Ocean Day, mungkin itu pilihan menarik lainnya...hehehe. Karena abi lahir Januari dimana tidak ada hari libur, jadi pilihannya adalah Agustus, tanggal kelahiran saya. Asyik, saya punya perayaan dobel bulan Agustus...hahaha.  26 tahun menjalani pernikahan bersama, abi bukan tipe orang yang inget tanggal kelahiran atau pernikahan dan saya kebalikannya. Saya selalu ingat momen-momen penting dalam hidup saya. Kalau ulang tahun, kami bukan tipe orang yang merayakannya, untainan doa sudah cuku

Permakultur dan Bumi Langit Institute

Image
Bumi Langit selalu diasosiasikan dengan permakultur, pertanian organik, warung Bumi, Obama, mie lethek dan tentu sang pemilik, Pak Iskandar Waworuntu. Buat saya, permakultur adalah kata yang membawa saya mengenal Bumi Langit Institute. Berawal ketika Michele, seorang volunteer dari Australia yang senang ikut kegiatan saya di kebun, bercerita tentang konsep permakultur yang diinsiasi oleh Bill Mollison. Ah ternyata kebun saya sudah mirip2 sedikit dengan konsep permakultur. Saya menerapkan tumpang sari, menggunakan mulsa sekam untuk menjaga kelembaban tanah, menggunakan kompos dari kotoran ternak sampai membuat banana circle. Tapi konsep itu tidak saya terapkan dengan benar ditambah tidak konsistennya saya berkebun. Kesibukan kerja membuat saya jarang ke kebun yang jaraknya hanya 15 menit dari rumah dan penjaga kebun selalu membuat kejutan setiap kali saya punya kesempatan ke kebun. Satu petak hanya diisi satu jenis tanaman, sorghum, jagung dan tebu tersebar nggak jelas, tanah tida

Iqra'

Image
Saya terlibat dalam sebuah percakapan dengan beberapa teman tentang buku apa saja yang sudah dan sedang dibaca. Salah satu teman menceritakan dalam setahun dia bisa melahap buku fiksi dan non-fiksi yang jumlahnya sekitar 30an buah, 3 kali lipat dari rata-rata orang Indonesia yang menurut Perpusatakaan Nasional hanya membaca 5-9 buah dalam setahun. Dan ternyata saya masuk dalam rata-rata orang Indonesia...hehehe.  Membaca membuat kita menjadi kaya dengan informasi yang tertulis dalam naskah yang diterbitkan dalam bentuk buku tersebut. Baik buku fiksi maupun non-fiksi menawarkan cakrawala pengetahuan yang membawa kita kemana-mana. Maka jangan heran ketika kita ngobrol dengan seseorang, biasanya bisa ketahuan apakah dia termasuk orang yang banyak membaca atau tidak.  Kemudian teman yang lain menanyakan berapa kali dia khatam Al Qur'an dalam setahun. Dan diapun hanya bisa nyengir yang rasanya mewakili saya juga. Saya memang membaca Al Qur'an cukup intens tapi rasanya itu

Heboh Plastic Free July

Image
Hari ini lebih dari 2 juta orang dari 159 negara mulai mengikuti tantangan Plastic Free July. Sebuah gerakan dari Australia yang diinisiasi oleh Rebecca Prince-Ruiz tahun 2011 dan diikuti 40 orang kemudian setelah 7 tahun...masif! Diawali ketika Rebecca bekerja untuk Program Earth Carers di Western Metropolitan Regional Council di Perth. Sebuah program edukasi tentang sampah dan mengajak peserta untuk mengunjungi fasilitas daur ulang.  Walaupun Australia memiliki sistem pengelolaan sampah yang baik tapi ketika Rebecca melihat jumlah sampah yang ada difasilitas daur ulang, ada hal yang mendasar yang merubah pola pikirnya yaitu tentang perilaku. Jadi Rebecca memutuskan untuk berusaha menghindari plastik dibulan berikutnya yang jatuh pada bulan Juli.  Saya mengenal gerakan ini beberapa tahun yang lalu tapi tidak pernah mengikuti tantangannya. Nggak pernah beres deh kalau ikut tantangan..hehehe. Tapi bukan berarti saya tidak menaruh perhatian dengan tantangan Plastic Free July. S

Tumeric latte

Image
Bagi orang Indonesia, minuman berbahan dasar kunyit bukan hal baru karena kunyit merupakan bahan dasar jamu. Saya dan suami suka minum kunyit asam buatan sendiri. Resepnya suka-suka tapi masih penasaran dengan foto2 minuman kunyit asam diinternet dengan warna kuning yang aduhai, semoga itu bukan efek photoshop atau pewarna...hahaha. Kami suka minuman ini karena gampang membuatnya dan punya banyak manfaat bagi kesehatan, mulai dari antioksidan, anti-inflamasi, menjaga fungsi hati dan pencernaan hingga pertahanan terhadap diabetes dan kanker. Selain saya dan suami, anak-anak tidak menolak minuman ini walaupun pake acara protes dan minumnya hanya segelas ukuran sloki.  Nah kalau tumeric latte? Kenalnya ketika mengunjungi sebuah kafe di daerah Raglan, New Zealand. Walaupun penasaran, tapi saya lebih memilih thick chocolate milkshake dan membiarkan salah seorang teman yang juga penasaran untuk memesan tumeric latte. Hasilnya, minuman itu disodorkan kesaya setelah diseruput beberapa k

Belajar dari seorang bibi

Kami punya seorang bibi yang membantu pekerjaan rumah tangga sejak tahun 2015. Si bibi seorang janda beranak 2 dan sudah memiliki cucu. Masih cukup muda untuk ukuran perempuan seumurnya untuk punya cucu. Dia berniat bekerja agar bisa menghidupi dirinya dan ibunya di desa. Si bibi tinggal bersama kami dan kami ijinkan untuk pulang ke desa sebulan sekali atau kalau ada keperluan.    Untuk standar pekerjaan, dia tidak memenuhi standar ibu saya yang sangat perfeksionis. Tapi buat saya, yang penting beberapa pekerjaan rumah bisa teratasi. Saya bertanggungjawab untuk memoles pekerjaan yang harus sempurna menurut standar ibu saya walaupun kadang tidak bisa saya penuhi juga. Tapi kami harus tetap bersyukur karena si bibi sudah banyak membantu.  Beberapa bulan yang lalu, dia menangis karena anak perempuannya pergi menjadi seorang tenaga kerja ke Malaysia dan meninggalkan anaknya tanpa pamit. Perasaannya campur aduk dan dia bekerja sambil sesenggukan. Dia membayangkan nasib cucunya yang masi

Antara alpukat, pempek, wortel, nirsampah dan origami

Image
Pagi ini saya sarapan dengan alpukat mentega dan sedikit serutan gula merah dari tebu yang saya beli dari pengrajinnya di Dompu. Alpukat saya petik beberapa hari yang lalu dari pohon yang sedang berbuah banyak di depan rumah. Seperti Rasul, beliau makan buah lokal yang sedang musim. Betapa bersyukurnya saya dan keluarga tinggal di rumah yang memiliki halaman luas dengan pohon buah yang berbuah bergantian sesuai musim. Pisang, mangga, pepaya, alpukat, kersen, kedondong dan sukun selalu kami dapat dari halaman rumah. Tapi kadang saya beli juga kalau ingin pisang atau pepaya yang jenisnya tidak ada di halaman rumah...hehehe.   Kembali cerita tentang alpukat, dari kecil saya mengenal alpukat yang diolah menjadi jus yang rasanya manis dan kental. Nikmat sekali! Ketika ke Meksiko, saya mengenal guacamole dengan citra rasa asam segar dari perasan air jeruk lemon dan sedikit garam atau biasa ditambah pula dengan bawang bombai dan potongan tomat ukuran dadu. Layaknya sambal bagi orang