Wednesday, May 06, 2009

A friendship





Sembalun Lawang, a village in the foothill of Rinjani Mountain, May 2009

Thursday, April 30, 2009

UAN

Seorang anak tetangga sedang mengikuti UAN tingkat SMP

Saya: "Kiko, gimana ujiannya Kakak Maya?"
Kiko: "Baik tante, besok hari terakhir"
Saya: Apa kata Kakak Maya...ujiannya susah nggak?
Kiko: "Nggak tuh, khan dia dapat bocoran. Dapat semua kunci jawaban. Jawabannya bener semua lho tante."
Saya: "Ha?! Emang dia dapet darimana?"
Kiko: "Temennya. Semua temen2nya tau kok. Ada yang dapet lembar jawaban. Ada yang dapet sms."
Saya: "Gurunya tau nggak kira2"
Kiko: "Nggak tuh"

Dan sayapun hanya bisa mengelus dada sambil bertanya...Mau dibawa kemanakah UAN?

Sunday, April 19, 2009

Cendol

Saya penggemar minuman manis yang satu ini. Sejak kecil malah. Saya ingat ketika libur sekolah mengunjungi si Mbah di Kebumen, saya dan sepupu2 saya punya ritual menunggu penjual es dawet, nama yang lebih dikenal di tanah Jawa.

Karena bapak dan saya adalah penggemar cendol, ibupun belajar membuat cendol. Saya senang saat menyaring dan melihat buliran2 berwarna hijau jatuh dibaskom berisi air. Tapi karena kesibukan ibu, sepertinya kami lebih sering membeli deh...hehehe

Kalo di Bandung, siapa sih yang nggak kenal cendol Elizabeth, yang jadi langganan saya selama lebih kurang setahun ketika tinggal di Bandung. Dan ketika tinggal di Selandia Baru, saya juga sering beli walaupun tidak dikategorikan sebagai langganan. Cendolnya ini versi Vietnam dan yang jelas jauhlah ama cendol Indonesia. Tapi ya daripada nggak ada, untuk mengobati kangen dengan cendol, dibeli juga sih...hehehe.

Kalau di Lombok, saya punya dong langganan. Ini khas Sasak karena selain cendol, ketan hitam dan potongan ubi kayu yang dimasak dengan gula merah, ikut menjadi campuran. Kalau si Abi selalu pesan lengkap campuran itu, saya tetap pakai pakem Jawa, hanya campuran cendol, santan dan gula merah.




Minggu lalu, saya dan anak2 sepakat untuk berkunjung ke rumah si penjual cendol langganan dan melihat proses pembuatan cendol. Azka dan Miska ikutan menumbuk daun pandan, memotong ubi kayu, memasak adonan cendol, memarut kelapa dan akhirnya...



Terima kasih buat bi Senah yang memberi kesempatan anak2 belajar :)

Monday, April 06, 2009

Caleg

Banyak caleg habis2an untuk membiayai kampanyenya. Caleg A menjual tanah warisannya, caleg B harus merelakan mobilnya ditarik dealer karena tidak sanggup membiayai cicilan, caleg C menggadaikan perhiasaanya, caleg D menjual rumahnya jauh dibawah harga pasar dan seterusnya...begitulah artikel yang berjudul Ongkosi Kampanye, Caleg Gadaikan Hartanya dihalaman depan Media Indonesia hari Minggu kemarin.

Saya jadi teringat kepada seorang teman yang juga jadi caleg. Sudah lama kami tidak bertemu. Ketika bertemu dengan teman lain yang dekat dengan teman saya yang caleg ini, saya tanyakan kabarnya. Dia nyesel, katanya. Ketika 25 juta melayang untuk membiayai kampanyenya, dia belum begitu menyesal. Tapi ketika angka itu merangkak naik hingga angka 50 juta, yang ada kata2 penyesalan yang keluar dari mulutnya. Ingin mundur katanya lebih jauh. Dan teman sayapun berseloroh, yaaah...nanggung amat...hahaha.

Yang jelas, saya sempat dibuat kesal oleh para caleg. Ketika dalam perjalanan menuju Ngawi beberapa waktu yang lalu, pak supir memutuskan untuk lewat jalan alternatif. Ketika sampai disebuah pertigaan, pak supir bingung antara belok kiri atau kanan karena arah penunjuk jalan tertutup oleh wajah2 caleg yang tersenyum manis. Hasilnya...kami nyasar. Dan kamipun tertawa terbahak2...waaah baru jadi calon aja, ulahnya sudah bikin sesat kami, gimana kalau sudah jadi anggota legislative beneran...hahaha

Tuesday, March 17, 2009

Belajar dari seorang perempuan

Dalam perjalanan dari Kediri ke airport Juanda
Saya: Bi, ntar kita having lunch dulu ya sebelon ke airport
Abi: Having lunch diairport aja deh
Sayapun berpikir...hmm, tumben nih si Abi ngajakin lunch di airport. Langsung saya mengingat2 restoran atau kafe mana ya yang enak di airport Juanda. Maklum kita termasuk orang yang jarang sekali menghabiskan puluhan ribu untuk mengganjal perut di airport.

Setibanya di airport
Saya: Bi, kita makan diresto yang dibawah atau atas? Tanya saya bersemangat, maklum sudah laper berat.
Abi: Nggak dua2nya
Saya: Jadi makan dimana dong?
Abi: Ntar Abi beli nasi bungkus dikantinya supir2 taksi itu yah
Sayapun bengong...sambil sedikit cemberut karena impian duduk nyaman disebuah kafepun buyar

Sambil menunggu, saya duduk lesehan. Disebelah saya ada seorang perempuan berseragam ungu dan bertopi caping. Dilihat seragamnya, beliau sepertinya petugas kebersihan. Kemudian seorang temannya memberi makanan yang dibungkus daun pisang. Pasti makan siangnya, pikir saya. Saya terus memperhatikannya...

Dengan perlahan, dia buka bungkusan daun pisang itu. Sambil komat-kamit...hmm, mungkin si perempuan membaca doa, dia suapkan makanan yang ada didalam daun pisang itu perlahan kemulutnya. Tidak ada nasi dalam bungkusan daun pisang itu, hanya daun2an yang sepertinya sudah dicacah halus dan mungkin diberi parutan kelapa menyerupai urap. Ya, hanya itu! Kemudian Abi datang membawa 2 nasi bungkus berisi ayam, potongan daging dan sayur tumisan. Entah kenapa saya jadi begitu sentimental...

Hmm...seandainya saya memilih untuk tetap makan disebuah tempat berlabel restoran atau kafe, saya telah melepaskan kesempatan untuk belajar. Terima kasih Abi, saya sudah diberi kesempatan belajar lebih bersyukur dari seorang perempuan disudut sebuah airport...