Wednesday, October 21, 2009

Pesantren



Saya baru saja selesai membaca Negeri 5 Menara. Cerita yang mengingatkan saya kepada pengalaman Khansa dan Tsaqif menyelami hari2nya belajar di pesantren...

Keputusan setengah hati...sama seperti sang tokoh, Alif, hal yang sama juga dialami Khansa dan Tsaqif ketika mengetahui bahwa mereka akan melanjutkan sekolahnya di pesantren sepulangnya mereka dari Selandia Baru. Ini rencana lama, jauh sebelum kami berangkat ke Selandia Baru. Walaupun rencana lama, referensi saya tentang pesantren tidak juga bertambah. Ah...seharusnya saya membekali diri dengan referensi yang banyak dan baik tentang pesantren sehingga ketika menghadapi anak2 yang memang sudah pandai berargumentasi, saya tidak perlu kehilangan akal dan mengeluarkan pernyataan yang bersifat doktrin.

Beberapa kali saya mengunjungi Khansa dan Tsaqif tapi hanya untuk beberapa jam. Padahal mereka ingin sekali saya menginap. Tapi melihat kondisi kamar mandi dan tempat penginapan yang tidak memenuhi selera saya, saya selalu enggan untuk menginap. Penolakan2 kecil seperti ini selalu saya utarakan kepada abi dan teman2 saya ketika bercerita tentang pesantren. Tidak sedikitpun saya berbicara hal2 yang lebih baik dari itu. Akhirnya Khansa dan Tsaqifpun selalu mengamini hal2 sepele seperti itu walaupun banyak hal2 baik yang juga mereka ceritakan selama di pesantren.

Hingga akhirnya sebuah pelajaran yang berharga saya petik sebagai hikmah, saat mengantar Tsaqif ke pesantren setelah liburan panjangnya. Dia menolak dan menangis ketika tiba digerbang pesantren. Padahal sepanjang perjalanan dia baik2 saja. Dia sama sekali menolak untuk turun dari mobil. Padahal dia harus mencontreng namanya yang menandakan dia sudah hadir di pesantren dan lewat pukul 12 santri yang tidak mencontreng namanya dinyatakan belum hadir. Ketika itu jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Tidak ada tanda2 dia mau turun dari mobil. Saya kontak kerabat yang juga belajar di pesantren. Tidak mempan. Beberapa santri yang tidak saya kenal juga ikut merayunya. Dengan kemampuan bahasa Inggrisnya yang baik, dia cukup dikenal walaupun Tsaqif tidak pernah bercerita tentang itu. Saya coba kontak ustadz yang sudah kami dikenal sebelumnya. Sama saja. Akhirnya urusan mencontreng namanya diwakilkan atas bantuan beberapa ustadz.

Mau tidak mau akhirnya saya harus menginap di pesantren. Tidak di wisma2 tamu yang biasanya digunakan oleh orangtua santri, tapi dimobil menemani Tsaqif. Tengah malam Tsaqif mau turun dari mobil dan saya temani dia untuk sholat di mesjid. Saya duduk diluar sambil mengamati beberapa santri lagi sholat tahajjud. Ada kedamaian menyelimuti saya. Sambil memandang langit yang dipenuhi bintang, saya memanjatkan do'a agar dimudahkan segala urusan...

Subuh menjelang, pesantren sudah ramai oleh santri2 yang hendak menjalankan sholat subuh di mesjid. Melihat wajah2 yang selalu dibasuh air wudhu...entah apa yang saya pikirkan. Yang jelas damai kembali menyelimuti hati saya. Tsaqif masih menolak, tapi saya tidak ingin sebagai prajurit yang kalah perang...saya terus berdo'a...berdo'a dan terus berdo'a. Apel pertama tinggal 1 jam lagi. Bila Tsaqif absen, maka sia2 urusan contreng tadi malam karena absen pagi adalah hal yang menyatakan santri siap belajar kembali.

Alhamdulillah, akhirnya dia mau diajak ustadznya untuk ikut upacara dan absen. Walaupun masih setengah hati...dia ikuti semua perkataan ustadznya. Dan sayapun meluncur ke Surabaya, mencari Gramedia dan membeli novel Negeri 5 Menara. Mengunjungi sahabat dan langsung ke airport.

Semalam dipesantren dan Negeri 5 Menara telah memberi saya pelajaran untuk mengenal lebih baik tentang pesantren karena kebetulan pesantren yang diceritakan adalah pesantren tempat Tsaqif sekarang belajar. Saya teringat pesan pimpinan pesantren ketika apel pagi waktu itu..."para ustadz disini ikhlas mengajar kalian, dan kalianpun seharusnya ikhlas menerima pelajaran dari para ustadz" Dan sayapun sepatutnya ikhlas mendo'akan mereka...InshaAllah

Thursday, September 24, 2009

Rahasia

Ada banyak cara untuk menyampaikan sebuah rahasia tanpa diketahui oleh orang lain.

Ibu saya yang orang Palembang selalu berbahasa Jawa jika ingin menyampaikan sesuatu yang bersifat rahasia ke bapak. Saya yang tidak diajarkan berbahasa Jawa tentu tidak mengerti dong.

Ketika anak2 masih kecil, saya dan Abi selalu berbahasa Inggris jika membicarakan sesuatu yang tidak ingin diketahui anak2.

Dua anak saya yang sekolah di pesantren melakukan hal yang sama. Mereka berbahasa Arab jika membicarakan suatu rahasia...waaah.

Thursday, August 27, 2009

15 years

Wednesday, August 19, 2009

Apa jadinya...

Dalam perjalanan ke Lombok Timur, saya ditemani oleh seorang temannya Abi dan adiknya. Kalau temannya Abi, saya kenal baik, karena kalau ke Bali saya selalu sempatkan untuk ketemu, tapi adiknya saya baru ketemu walaupun mereka sama2 tinggal di Bali.

Dalam dua jam perjalanan, banyak hal yang kita obrolkan. Dari hal2 yang ringan hingga yang berbau serius. Walaupun dua jam terlalu sebentar untuk bisa menilai seseorang, yah paling tidak saya tahu barang satu atau dua sifat seseorang. Terus terang saya tidak simpati ketika sang adik meremehkan kendaraan si kakak. Saya tahu mana batas bercanda dan tidak. Saya jadi lebih tidak simpati lagi ketika kita ngobrol soal bahasa daerah. Dengan entengnya dia berucap bahwa dia lain dengan saudara2nya yang fasih berbahasa Bali karena mereka bergaul dengan rakyat biasa sedangkan dia tidak fasih berbahasa Bali karena lebih banyak bergaul dengan orang Jakarta. Sigh!

Sampai di Lombok Timur, sambil menunggu si Abi selesai menyelam, saya lebih banyak bermain dengan anak2 yang asyik berenang dan tidak banyak berinteraksi dengan mereka.

Setelah dari Lombok Timur, kita bermalam di Lombok Tengah karena teman yang dari Singapura ingin jalan2 ke air terjun. Karena yang ingin ke air terjun banyak, sedangkan landy yang ada cuma satu, maka saya dan anak2 mengalah untuk tidak ikutan. Toh, kapan2 saya bisa kesana lagi.

Sekembalinya dari jalan2, teman yang dari Singapura mendekati saya dan bertanya2 tentang temennya Abi dan adiknya itu. Yah saya cerita apa adanya. Kemudian dia cerita kejadian di air terjun. Ketika menaiki tangga, adiknya temennya Abi langsung menarik tangannya dan menempelkan pipinya. Terus terang dia shock...sayapun jadi ikutan shock mendengar ceritanya. Si teman dari Singapura memang berwajah manis tapi bukan berarti bisa jadi inceran orang iseng khan. Sebuah perbuatan yang tidak pantas dilakukan oleh seorang laki2 yang telah berkeluarga dan seorang calon anggota dewan walaupun tidak lolos.

Ah, apa jadinya jika dia benar2 mewakili suara rakyat di dewan yang terhormat...

Tuesday, August 11, 2009

Jadwal

Senin: ngajarin anak2 origami
Selasa: diskusi konservasi terumbu karang
Rabu: nemein kakak yang lagi diving course
Kamis: diving trip
Jum'at: nanem mangrove
Sabtu: trekking ke air terjun
Minggu: trekking di kebun kopi

What a lovely week :)