Cendol
Saya penggemar minuman manis yang satu ini. Sejak kecil malah. Saya ingat ketika libur sekolah mengunjungi si Mbah di Kebumen, saya dan sepupu2 saya punya ritual menunggu penjual es dawet, nama yang lebih dikenal di tanah Jawa.
Karena bapak dan saya adalah penggemar cendol, ibupun belajar membuat cendol. Saya senang saat menyaring dan melihat buliran2 berwarna hijau jatuh dibaskom berisi air. Tapi karena kesibukan ibu, sepertinya kami lebih sering membeli deh...hehehe
Kalo di Bandung, siapa sih yang nggak kenal cendol Elizabeth, yang jadi langganan saya selama lebih kurang setahun ketika tinggal di Bandung. Dan ketika tinggal di Selandia Baru, saya juga sering beli walaupun tidak dikategorikan sebagai langganan. Cendolnya ini versi Vietnam dan yang jelas jauhlah ama cendol Indonesia. Tapi ya daripada nggak ada, untuk mengobati kangen dengan cendol, dibeli juga sih...hehehe.
Kalau di Lombok, saya punya dong langganan. Ini khas Sasak karena selain cendol, ketan hitam dan potongan ubi kayu yang dimasak dengan gula merah, ikut menjadi campuran. Kalau si Abi selalu pesan lengkap campuran itu, saya tetap pakai pakem Jawa, hanya campuran cendol, santan dan gula merah.


Minggu lalu, saya dan anak2 sepakat untuk berkunjung ke rumah si penjual cendol langganan dan melihat proses pembuatan cendol. Azka dan Miska ikutan menumbuk daun pandan, memotong ubi kayu, memasak adonan cendol, memarut kelapa dan akhirnya...

Terima kasih buat bi Senah yang memberi kesempatan anak2 belajar :)
Karena bapak dan saya adalah penggemar cendol, ibupun belajar membuat cendol. Saya senang saat menyaring dan melihat buliran2 berwarna hijau jatuh dibaskom berisi air. Tapi karena kesibukan ibu, sepertinya kami lebih sering membeli deh...hehehe
Kalo di Bandung, siapa sih yang nggak kenal cendol Elizabeth, yang jadi langganan saya selama lebih kurang setahun ketika tinggal di Bandung. Dan ketika tinggal di Selandia Baru, saya juga sering beli walaupun tidak dikategorikan sebagai langganan. Cendolnya ini versi Vietnam dan yang jelas jauhlah ama cendol Indonesia. Tapi ya daripada nggak ada, untuk mengobati kangen dengan cendol, dibeli juga sih...hehehe.
Kalau di Lombok, saya punya dong langganan. Ini khas Sasak karena selain cendol, ketan hitam dan potongan ubi kayu yang dimasak dengan gula merah, ikut menjadi campuran. Kalau si Abi selalu pesan lengkap campuran itu, saya tetap pakai pakem Jawa, hanya campuran cendol, santan dan gula merah.




Minggu lalu, saya dan anak2 sepakat untuk berkunjung ke rumah si penjual cendol langganan dan melihat proses pembuatan cendol. Azka dan Miska ikutan menumbuk daun pandan, memotong ubi kayu, memasak adonan cendol, memarut kelapa dan akhirnya...

Terima kasih buat bi Senah yang memberi kesempatan anak2 belajar :)
Comments
saya juga doyan nii,es cendol. seger banget ktika udara panas, srupuutt..put..
nikmat.
alhamdulillah hani, sy sdh kembali dari perjalannnya. oleh-oelhnya pegel-pegel semua badan. skrg jg mungkin ngantor hanya setengah hari.
mau nyari cendoollll..
wassalam
hancur sudah diet dan olahraga sore itu :D---> bikin roti panggang dan milk-shake, abis cendolnya jauh sih!
itu tukang cendol gak tau dah berapa generasi. mulai dari linda blm lahir sampe dah punya 8 ponakan, tkg cendolnya masih eksis :)
kl di tenpatku pakai potongan nangka dikitt biar tambah wangi..trus gula merahnya kentalllll bgt..trus aduk2 sampai tersampur hmmmm slurrpppp!
nah lhoo jd pengen dawet panas-panas gini *london dah mulai panas nihhh*..tanggung jawab lho Bu, bikin orang pengen dawet..
^^