Idris Tangaroa Haq
25 Juni 2007
Saya mulai merasakan kontraksi sore hari. Saya hitung masih per satu jam. Tapi saya minta Abi untuk pergi kerja lebih awal karena bisa saja jarak kontraksi semakin dekat dan si Abi belum selesai kerja...khan repot jadinya nanti.
Kemudian menelpon Ibu Lisa, salah satu sahabat yang lagi menempuh jenjang program doktoralnya diuniversitas yang sama, untuk minta tolong Laras, anaknya, untuk menjaga anak2 kalau saya harus melahirkan malam atau esok harinya.
Setelah itu baru menyiapkan perlengkapan yang akan dibawa ke klinik. Duuuh...santai amat ya saya. Karena baru siap2, banyak akhirnya yang alpa walaupun sudah ada dalam list. Termasuk kamera yang belum dicharge baterainya.
Kontraksi semakin dekat jaraknya dan saya mulai khawatir karena si Abi belum pulang. Saya telpon Abi dan katanya setengah jam lagi selesai. Kemudian menelpon bidan dan menerangkan kondisi saya. Bidan saya memutuskan untuk menemui saya di klinik dalam 20 menit.
River Ridge East Birth Centre


Semenjak teman2 tahu bahwa saya hamil, mereka langsung merekomendasikan nama seorang bidan dan sebuah klinik dimana mereka sudah merasakan pelayanan kelas hotel bintang. Kemudian ditambah pengalaman yang tidak nyaman ketika seorang teman baik melahirkan di rumah sakit. Banyak hal2 yang bikin gemes rupanya, seperti sang suami tidak boleh menemani sang istri ketika malam hari kemudian tempat tidur yang untuk merubah posisinya saja harus dengan cara manual. Bukankah ini sudah terlalu kuno untuk standar rumah sakit negara maju seperti New Zealand.
Ketika diskusi dengan bidan masalah waterbirth, saya ingin tahu dong tempatnya seperti apa. Karena klinik bersalin berada persis disebelah tempat prakteknya, sang bidan menelpon salah seorang staff klinik untuk menemani saya melihat tempatnya.
Saya pikir, saya hanya akan ditunjukkan tempatnya saja dan dugaan saya meleset. Sang staff klinik mengajak saya tur keliling klinik mulai dari ruang resepsionis, kantor, tempat melahirkan, ruangan paska melahirkan hingga dapurnya.

Untuk ruang paska melahirkan, semua punya privasi yang baik. Dan soal makanan...hmm, nggak usah ditanya deh ;-)
Waterbirth
Saya mengenal waterbirth ketika menonton video mengenai makhluk cerdas bernama lumba2 yang punya keinginan tinggi terhadap kelahiran bayi manusia. Diceritakan bagaimana seorang peneliti Rusia bernama Igor Tscharkofsy melakukan penelitian tentang kelahiran bayi yang ditemani lumba2 di Laut Hitam. Komentar saya...luar biasa! Setelah itu, waterbirth berlalu dalam pikiran saya.
Hingga ketika hamil yang kelima ini, waterbirth muncul lagi dalam perbincangan. Saya sudah pernah mengalami induksi ketika melahirkan dan rasanya luar biasa tidak nyaman dan itu dua kali. Kemudian melahirkan secara normal tapi rasa trauma karena sakit kadang2 masih terbayang. Ketika hamil Miska, ada pilihan epidural, tapi dokter kandungan saya tidak menyarankan karena dia yakin saya bisa melahirkan tanpa harus menyuntikkan penahan rasa sakit kesum sum tulang belakang saya.
Terus terang saya ingin melahirkan dengan meminimalkan mungkin rasa sakit. Bidan saya menyarankan untuk waterbirth. Si Abi bilang kenapa tidak dicoba. Akhirnya saya mencari referensi di Google. Hmm...sepertinya menarik juga.
Ketika tiba diklinik, tidak sampai menunggu lima menit, bidan saya datang. Kemudian langsung menuju ruang bersalin. Dipasang alat untuk memonitor detak jantung bayi dan bidan menanyakan apakah saya ingin diperiksa dalam. Saya bilang iya karena penasaran sudah pembukaan berapa. Ternyata sudah bukaan lima dan atas persetujuan saya, air ketuban dipecahkan untuk mempercepat proses kelahiran. Hormon adrenalin yang tinggi membuat kaki saya gemetar dan tekanan darah sedikit tinggi. Kontraksi sempat menjadi lambat karena saya mengalami dehidrasi.
Sementara itu sang bidan menyiapkan air hangat yang dibubuhi cairan dengan aroma sitrus pilihan saya dibath up. Kalau ingin melihat bath upnya, bisa klik ini.
Saya memutuskan untuk jalan2 disekitar ruangan bersalin sambil ditemani Abi dan Ibu Lisa. Setelah minum 2 gelas dan cairan infus dipercepat, kontraksi mulai membuat saya semakin nyengir. Bidan menanyakan apakah saya ingin berendam diair hangat. Kenapa tidak pikir saya, toh sudah bukaan lima dimana kondisi tepat untuk berendam.
Air hangat dan aromaterapi memang membuat saya jadi benar2 rileks. Kontraksi yang dirasakan sebelum dan sesudah berendam memang jauh berbeda. Dua atau tiga kali merasakan kontraksi, rasanya saya sudah ingin "push". Dengan tenang sang bidan mengatakan "ok, you can push now" sambil sigap disamping bath up. Push yang pertama kurang kuat dan saya perlu menarik napas kemudian langsung dengan push yang kedua dan lebih semangat...dan dalam hitungan detik, saya merasakan sang bayi meluncur melalui jalan lahir dan langsung ditangkap sang bidan.
Tadinya saya membayangkan ketika bayi lahir, air dalam bath up akan bercampur dengan darah. Ternyata tidak sama sekali.
Kemudian sang bayi ditaruh didada saya dan bidan menyuruh si Abi untuk memotong tali pusarnya. Air dibath up kemudian dibuang, bayi diinjeksi vitamin K dan diserahkan ke Abi. Sedangkan bidan menunggu plasenta keluar. Setelah plasenta keluar, kemudian dibath up dibersihkan dari sisa darah yang keluar. Sayapun langsung mandi.
Setelah itu, saya langsung keluar dari bath up untuk dicek apakah ada robekan yang perlu dijahit. Dan salah satu keuntungan waterbirth, jarang sekali ada perempuan yang mengalami robekan. Betul juga!
Sambil menunggu kamar paska melahirkan disiapkan, bayi diserahkan kesaya untuk menyusui. Setelah kamar siap, ternyata saya cukup kuat untuk jalan. Tidak seperti pengalaman melahirkan sebelum2nya, dimana saya harus menunggu cukup lama untuk bisa berdiri, apalagi jalan.
Idris Tangaroa Haq

Nama Idris adalah pemberian dari Pak Alamsyah, salah seorang sahabat baik kami disini. Seperti nama anak2 yang lain, saya dan Abi ingin ada punya unsur lautnya. Tadinya saya menaruh nama Moana yang artinya Samudra yang dipakai di Hawaii atau Maori. Tapi ternyata nama Moana adalah untuk anak perempuan. Seorang teman berdarah Maori menyarankan nama Tangaroa yang artinya the guardian of the sea.
Idris Tangaroa Haq
Lahir dengan berat 3.5 kg dan panjang 56 cm
Saya mulai merasakan kontraksi sore hari. Saya hitung masih per satu jam. Tapi saya minta Abi untuk pergi kerja lebih awal karena bisa saja jarak kontraksi semakin dekat dan si Abi belum selesai kerja...khan repot jadinya nanti.
Kemudian menelpon Ibu Lisa, salah satu sahabat yang lagi menempuh jenjang program doktoralnya diuniversitas yang sama, untuk minta tolong Laras, anaknya, untuk menjaga anak2 kalau saya harus melahirkan malam atau esok harinya.
Setelah itu baru menyiapkan perlengkapan yang akan dibawa ke klinik. Duuuh...santai amat ya saya. Karena baru siap2, banyak akhirnya yang alpa walaupun sudah ada dalam list. Termasuk kamera yang belum dicharge baterainya.
Kontraksi semakin dekat jaraknya dan saya mulai khawatir karena si Abi belum pulang. Saya telpon Abi dan katanya setengah jam lagi selesai. Kemudian menelpon bidan dan menerangkan kondisi saya. Bidan saya memutuskan untuk menemui saya di klinik dalam 20 menit.
River Ridge East Birth Centre
Semenjak teman2 tahu bahwa saya hamil, mereka langsung merekomendasikan nama seorang bidan dan sebuah klinik dimana mereka sudah merasakan pelayanan kelas hotel bintang. Kemudian ditambah pengalaman yang tidak nyaman ketika seorang teman baik melahirkan di rumah sakit. Banyak hal2 yang bikin gemes rupanya, seperti sang suami tidak boleh menemani sang istri ketika malam hari kemudian tempat tidur yang untuk merubah posisinya saja harus dengan cara manual. Bukankah ini sudah terlalu kuno untuk standar rumah sakit negara maju seperti New Zealand.
Ketika diskusi dengan bidan masalah waterbirth, saya ingin tahu dong tempatnya seperti apa. Karena klinik bersalin berada persis disebelah tempat prakteknya, sang bidan menelpon salah seorang staff klinik untuk menemani saya melihat tempatnya.
Saya pikir, saya hanya akan ditunjukkan tempatnya saja dan dugaan saya meleset. Sang staff klinik mengajak saya tur keliling klinik mulai dari ruang resepsionis, kantor, tempat melahirkan, ruangan paska melahirkan hingga dapurnya.
Untuk ruang paska melahirkan, semua punya privasi yang baik. Dan soal makanan...hmm, nggak usah ditanya deh ;-)
Waterbirth
Saya mengenal waterbirth ketika menonton video mengenai makhluk cerdas bernama lumba2 yang punya keinginan tinggi terhadap kelahiran bayi manusia. Diceritakan bagaimana seorang peneliti Rusia bernama Igor Tscharkofsy melakukan penelitian tentang kelahiran bayi yang ditemani lumba2 di Laut Hitam. Komentar saya...luar biasa! Setelah itu, waterbirth berlalu dalam pikiran saya.
Hingga ketika hamil yang kelima ini, waterbirth muncul lagi dalam perbincangan. Saya sudah pernah mengalami induksi ketika melahirkan dan rasanya luar biasa tidak nyaman dan itu dua kali. Kemudian melahirkan secara normal tapi rasa trauma karena sakit kadang2 masih terbayang. Ketika hamil Miska, ada pilihan epidural, tapi dokter kandungan saya tidak menyarankan karena dia yakin saya bisa melahirkan tanpa harus menyuntikkan penahan rasa sakit kesum sum tulang belakang saya.
Terus terang saya ingin melahirkan dengan meminimalkan mungkin rasa sakit. Bidan saya menyarankan untuk waterbirth. Si Abi bilang kenapa tidak dicoba. Akhirnya saya mencari referensi di Google. Hmm...sepertinya menarik juga.
Ketika tiba diklinik, tidak sampai menunggu lima menit, bidan saya datang. Kemudian langsung menuju ruang bersalin. Dipasang alat untuk memonitor detak jantung bayi dan bidan menanyakan apakah saya ingin diperiksa dalam. Saya bilang iya karena penasaran sudah pembukaan berapa. Ternyata sudah bukaan lima dan atas persetujuan saya, air ketuban dipecahkan untuk mempercepat proses kelahiran. Hormon adrenalin yang tinggi membuat kaki saya gemetar dan tekanan darah sedikit tinggi. Kontraksi sempat menjadi lambat karena saya mengalami dehidrasi.
Sementara itu sang bidan menyiapkan air hangat yang dibubuhi cairan dengan aroma sitrus pilihan saya dibath up. Kalau ingin melihat bath upnya, bisa klik ini.
Saya memutuskan untuk jalan2 disekitar ruangan bersalin sambil ditemani Abi dan Ibu Lisa. Setelah minum 2 gelas dan cairan infus dipercepat, kontraksi mulai membuat saya semakin nyengir. Bidan menanyakan apakah saya ingin berendam diair hangat. Kenapa tidak pikir saya, toh sudah bukaan lima dimana kondisi tepat untuk berendam.
Air hangat dan aromaterapi memang membuat saya jadi benar2 rileks. Kontraksi yang dirasakan sebelum dan sesudah berendam memang jauh berbeda. Dua atau tiga kali merasakan kontraksi, rasanya saya sudah ingin "push". Dengan tenang sang bidan mengatakan "ok, you can push now" sambil sigap disamping bath up. Push yang pertama kurang kuat dan saya perlu menarik napas kemudian langsung dengan push yang kedua dan lebih semangat...dan dalam hitungan detik, saya merasakan sang bayi meluncur melalui jalan lahir dan langsung ditangkap sang bidan.
Tadinya saya membayangkan ketika bayi lahir, air dalam bath up akan bercampur dengan darah. Ternyata tidak sama sekali.
Kemudian sang bayi ditaruh didada saya dan bidan menyuruh si Abi untuk memotong tali pusarnya. Air dibath up kemudian dibuang, bayi diinjeksi vitamin K dan diserahkan ke Abi. Sedangkan bidan menunggu plasenta keluar. Setelah plasenta keluar, kemudian dibath up dibersihkan dari sisa darah yang keluar. Sayapun langsung mandi.
Setelah itu, saya langsung keluar dari bath up untuk dicek apakah ada robekan yang perlu dijahit. Dan salah satu keuntungan waterbirth, jarang sekali ada perempuan yang mengalami robekan. Betul juga!
Sambil menunggu kamar paska melahirkan disiapkan, bayi diserahkan kesaya untuk menyusui. Setelah kamar siap, ternyata saya cukup kuat untuk jalan. Tidak seperti pengalaman melahirkan sebelum2nya, dimana saya harus menunggu cukup lama untuk bisa berdiri, apalagi jalan.
Idris Tangaroa Haq
Nama Idris adalah pemberian dari Pak Alamsyah, salah seorang sahabat baik kami disini. Seperti nama anak2 yang lain, saya dan Abi ingin ada punya unsur lautnya. Tadinya saya menaruh nama Moana yang artinya Samudra yang dipakai di Hawaii atau Maori. Tapi ternyata nama Moana adalah untuk anak perempuan. Seorang teman berdarah Maori menyarankan nama Tangaroa yang artinya the guardian of the sea.
Idris Tangaroa Haq
Lahir dengan berat 3.5 kg dan panjang 56 cm
Comments
btw, mbak ini hospital atau hospitality, koq kaya hotel ya? :)
Wah, patut dipertimbangkan neh, melahirkan di dalam airnya. Hhihihihi... Pengeeeeen... ;)
cukup buat satu tim basket ya mbak hon? apa mau jadi tim volley nanti? hehe..
btw cerita sekolahnya nanti, mau traveling dulu ;p
mbak hani...selamat yah. Teman de ada yg jadi percobaan untuk proses waterbirth masuk indonesia. Bahkan proses kelahirannya direkam dan disiarkan di ANtv.
kalo de udah 2x SC, bisa gak yah yg ketiga normal dengan proses ini?
*gaya lo de...lahiran kmrn aja udah bikin ribut 6 dokter kok masih mo nambah lagi*
kandidat AFS'ers 16 tahun lagi
kandidat Rotary YEP'ers 16 tahun lagi
kandidat PPAN 20 tahun lagi....
oom udah ga sabar nunggu segitu lamanya utk tetep jadi relawan AFS/Rotary YEP :D hahahaha...
wis... pokok'e selamat lah :D
Hani, sorry skg family blog aku udah jd. Ntar kl gak sibuk maen yah... janji deh gak pindah2 lagi....
seru juga nih proses waterbirth .. jadi nggak ada jahit menjahit dan obras mengobras??? menyenangkan sekali ya!!
- ika -
Nyaman banget kalau kliniknya berorientasi ke si ibu, jadi yg didengerin keinginan si ibu. Di sini juga.
Btw, logo rumah sakitnya bagus (gak nyambung ya? :D)
--durin--
hebat euy bisa dapat rezeki anak yang berlimpah. minta satu dooong... hehehe
moga makin bahagia dehhh..
*kusjes*
Salam kenal mbak.. jujur aku terinpirasi sama tulisan mbak awalnya ngga sengaja baca tulisan mbak pas lagi search mau ke Bali pake kereta.
*salammampirdaritetanggajauh*
Intan
Selamat ya Han, Boen!!!
Dan semoga Idris Tangaroa diberkati untuk menjadi seperti namanya: TANGAROA!!!
hebat euy.... suksesnya berlipat. Ya studi, ya nambah rizki lewat hadirnya Idris....
Jojo Damar
Gimana caranya ya mbak hani agar aku bisa loncat?? pengen banget. aku sampe hari sabtu pagi di sini. dua minggu setelah itu harus dah menclok lagi keliling peloksok Aceh en Sumut.
hehehe... mudah-2an ada orang dari airlines itu yang baca blogku so pas aku balik nanti bisa dapat layanan prima. heheh.... gembel kok dilawan???
maaf yah Han aku telat ngucapinnya. Aku ikut bahagia atas kelahiran Idris, semoga dia kelak menjadi anak yang soleh, anak yang berbahagia, taat kepada kedua orang tua dan Alloh SWT (amin).
Makasih bgt utk info water birthnya, jadi pengen nyoba. Mungkin nanti utk kelahiran anak yang ke-2 :).
Tira
sun chayank buat Idris *mwuuuuuuuuah*
Kagum sama Ummi Hani udah lahiran banyak dan semua normal. Pingin nambah lagi jadinya..he.he.
Dan maaf telat kasih masukan soal waterbirth. Di sini fasilitasnya masih minim, bahkan kita yg kudu siapkan plastic poolnya..waaa
Lalu, di sana bidan saja sudah cukup dan berpengalaman pula, Subhanallaah.
Disini kalau belum bukaan sepuluh, dokter belum akan datang dan suster tidak boleh menangani kelahiran...duh lain banget yaa.
Aku belum memutuskan mencoba water birth karena itu tadi fasilitas yg minim dan tenaga ahili yg masih sedikit. Dokter kandungan yg mau menangani water birth masih jarang.
Barakalaahu fikum utk Ummi dan Abi serta seluruh keluarga di NZ
selamat ya mbak... saya jadi pengen waterbirth juga, tapi kemungkinan saya lahiran di indo, bukan di lincoln jadi mungkin belum bisa waterbirth ya :-(
*moudy*
salam jg dr Nita...