Antara alpukat, pempek, wortel, nirsampah dan origami

Pagi ini saya sarapan dengan alpukat mentega dan sedikit serutan gula merah dari tebu yang saya beli dari pengrajinnya di Dompu. Alpukat saya petik beberapa hari yang lalu dari pohon yang sedang berbuah banyak di depan rumah. Seperti Rasul, beliau makan buah lokal yang sedang musim. Betapa bersyukurnya saya dan keluarga tinggal di rumah yang memiliki halaman luas dengan pohon buah yang berbuah bergantian sesuai musim. Pisang, mangga, pepaya, alpukat, kersen, kedondong dan sukun selalu kami dapat dari halaman rumah. Tapi kadang saya beli juga kalau ingin pisang atau pepaya yang jenisnya tidak ada di halaman rumah...hehehe.  


Kembali cerita tentang alpukat, dari kecil saya mengenal alpukat yang diolah menjadi jus yang rasanya manis dan kental. Nikmat sekali! Ketika ke Meksiko, saya mengenal guacamole dengan citra rasa asam segar dari perasan air jeruk lemon dan sedikit garam atau biasa ditambah pula dengan bawang bombai dan potongan tomat ukuran dadu. Layaknya sambal bagi orang Indonesia, guacamole hampir ada disetiap masakan Meksiko seperti nachos dan olahan daging yang dibakar. Cukup lama saya bisa menikmati guacamole karena saya masih lebih memilih olahan alpukat dengan citra rasa manis. 

Dan karena alasan ingin lebih baik dan peduli dalam urusan makan dan minum, saya memilih untuk mengkonsumsi alpukat dengan cara yang paling sederhana. Walapun masih memilih makan alpukat dengan tambahan rasa manis, saya tidak menambahkan susu kental manis atau gula pasir melainkan gula merah. Saya juga juga suka guacamole tapi kalau ada yang membuatkan...hahaha.

Seorang teman baik akan berlibur dengan keluarganya ke Lombok. Dia menanyakan apakah saya bisa menemuinya di airport. Saya bilang kurang kerjaan ah, toh selama dia disini kami juga akan berjumpa. Tapi ternyata ada alasan lain sehingga dia ingin kami bertemu saat dia tiba di Lombok. Dia berniat membawakan saya pempek. Wow! Mungkin untuk ukuran kota besar seperti Jakarta, agak membingungkan ya mau membawa oleh-oleh apa ke daerah...hahaha. 

Saya berteman dengannya sejak kecil. Latar belakang kami mirip, sama-sama berdarah campuran Palembang dan Jawa. Masa sekolah kami lewati bersama dan sama-sama penyuka olahraga air. Ketika kuliah, kami memilih jurusan yang berbeda dan di universitas berbeda. Walaupun kami berbeda keyakinan, pertemanan kami tetap terjalin hingga sekarang. 



Saya punya banyak teman baik dengan ras, latar belakang dan keyakinan yang berbeda. Alhamdulillah pertemanan kami baik-baik saja dan saling menjaga serta menghargai. Seperti firman Allah, “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (QS al-Mumtahanah [60]:8). 


Ketika membeli wortel lokal, sudah tampak tunas-tunas kecil diujungnya. Saya jadi ingat artikel-artikel yang membahas tentang tanaman yang bisa ditumbuhkan kembali dari hasil olahan di dapur. Dulu saya berhasil dengan alpukat, kentang dan nanas tapi tidak daun mint dan kemangi jawa. Sekarang waktunya mencoba wortel. Idris dapat tugas untuk mengamati pertumbuhan tunas-tunas wortel. 

Suami dan saya senang berkebun. Kami menanam apa saja di kebun yang lokasinya tidak jauh dari kota. Kami tidak menanam di rumah karena walaupun halamannya luas, ayam-ayam berkeliaran bebas sehingga peluang tanaman kami diganggu besar. Saya berkebun dengan ilmu yang terbatas merasa jatuh cinta ketika mengenal konsep permakultur. Ingin sekali bisa ikut pelatihan permakultur di Bumi Langit Institute di Imogiri, Yogyakarta. Konsep yang diajarkan tidak hanya mengembangkan sistem pertanian yang mandiri dan berkelanjutan tapi juga membawa nilai-nilai Islam kedalamnya. Subhanallah. 

Ayo menanam seperti hadits yang diriwayatkan Imam Muslim “Tidaklah seorang muslim menanam tanaman lalu tanaman itu dimakan manusia, binatang ataupun burung melainkan tanaman itu menjadi sedekah baginya sampai hari kiamat.” (HR. Imam Muslim hadits no.1552(10)).
Ketika belanja di bibi langganan yang menjual sayuran, saya sudah siapkan wadah untuk menaruh kebutuhan yang saya beli. Tantangan berbelanja di penjual sayuran keliling adalah semua sudah dibungkus dengan kantung plastik. Saya minta keluarkan semua sayuran dari kantung plastik dan dia bisa menggunakan kantung plastiknya kembali. Jadi saya bisa menekan jumlah sampah plastik yang dihasilkan. 

Konsep nirsampah atau zero waste sudah kami terapkan dirumah. Belum konsisten, tapi paling tidak kami sudah memulainya beberapa waktu yang lalu. Yang paling utama adalah ketika berbelanja. Kami punya banyak tas berbahan blaju untuk berbelanja bahan makanan dan perlengkapan rumah tangga serta tas jaring untuk berbelanja buah dan bumbu. Kalau ikan, ayam dan daging sapi, saya membawa kotak makanan. Botol air minum kami usahakan selalu bawa sehingga tidak perlu membeli air minum dalm kemasan dan sedotan kaca atau stainless steel kami bawa untuk menggantikan sedotan plastik.

Saya coba membuat sabun mandi sendiri dan sabun colek untuk mencuci piring dan baju berbahan dasar minyak jelantah. Tentu minyak jelantah bukan hasil menggoreng ikan asin ya...hahaha. Kami juga belum konsisten menggunakan sabun alami karena waktu untuk membuat serta waktu menunggu sabun agar bisa digunakan cukup lama.

Kami mencoba berikhtiar agar bumi yang kami pijak lebih baik dan kami tidak ingin menjadi golongan orang-orang yang membuat kerusakan seperti firman Allah "Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi, setelah (diciptakan) dengan baik. Berdo’alah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allâh sangat dekat kepada orang-orang yang berbuat kebaikan". [al-A’râf/7:56]
Dari 5 anak saya, Azka dan Idris yang paling suka kegiatan melipat kertas atau origami. Idris sudah pandai membaca diagram sendiri walaupun dia akan menghindar dari teknik yang rumit. Saya juga tidak memaksanya untuk belajar teknik yang lebih rumit karena saya pikir pasti ada masanya. 

Seorang temen baik mengirimkan foto jejeran buku origami yang sedang diskon di Periplus. Dia menawarkan Idris mau dibelikan buku yang mana. Idris bingung, rasanya pengen semua...hahaha. Setelah diskusi alot, akhirnya Idris memilih buku origami zoo. 

Buat saya, origami tidak hanya sekedar kegiatan melipat kertas. Anak-anak belajar bagaimana mengikuti aturan, berkomuniaksi dan berbagi keceriaan ketika sehelai kertas berubah menjadi satu model. Saya sudah menggunakan metode origami di kelas pendidikan lingkungan laut sejak 2010. 

Setiap tahun ada banyak konferensi internasional tentang origami. Tahun ini yang menarik perhatian saya yaitu konvensi di Inggris. Ketika konvensi yang sama diadakan di Jepang tahun 2016, waktunya agak berjauhan dengan konferensi yang saya hadiri. Masa' saya mau berlama-lama di Jepang, duit darimana...hehehe. Konvensi origami biasanya tidak menyediakan travel grant, sedangkan semua konferensi internasional yang saya hadiri diluar negeri mengandalkan travel grant. Biaya sendiri? Hmm..suami akan berkomentar, naik haji dulu kali...hehehe. 

So, a new year with lots of hope :-) 
Dan semoga Allah memudahkan segala sesuatu yang menjadi ikhtiar, aamiin 

Comments

Popular posts from this blog

Belajar memanah @ Baliwoso Camp

Mesin cuci

Dokter kandungan atau bidan?