Satu hari di sekolah

Saya sedang membantu memfasilitasi persahabatan antara satu sekolah di Lombok dengan satu sekolah di Australia. Jadi, salah satu tugas saya adalah memberi gambaran seperti apa sih kegiatan disekolah agar murid-murid kedua sekolah bisa saling bertukar cerita. Untuk itu saya minta ijin kepada kepala sekolah untuk memotret kehidupan sekolah.

Berhubung lokasi sekolah ada di pesisir utara Lombok Timur, jadi saya harus berangkat jam 4 pagi dari Mataram agar sampai disana bisa mengikuti kegiatan awal anak-anak berangkat ke sekolah. Waktu baru menunjukkan jam 6 kurang ketika kami tiba, tapi anak2 sudah ramai memenuhi jalan ke sekolah. Kami bergabung dengan beberapa anak dan jalan berbarengan sambil bercerita kegiatan pagi hari.
Semua anak yang saya tanyakan sudah sarapan, rata2 dengan nasi dan lauk ikan hasil tangkapan orangtua mereka. Bisa dibayangkan alangkah segar dan sehatnya lauk yang mereka konsumsi. Uang jajan? Orangtua mereka membekali anak2 ini dengan jumlah yang bervariasi antara Rp 2000 sampai Rp 5000. Jajan apa ya mereka...

Memasuki gerbang sekolah, saya melihat beberapa anak berkumpul. Ada meja dengan 2 nampan kaleng besar berisi semacam perkedel jagung dan tahu goreng dibalur tepung yang tinggal sedikit. Harganya Rp 500. Rasa ingin tahu mengalahkan radang amandel yang lagi membandel. Saya beli 4, 2 perkedel jagung dan 2 tahu dan saya bagi dengan Bahri, staff lembaga yang menemani saya. Perkedel agak pedas merica dan gurih serta berminyak. Dan tahunya berisi bihun goreng. 
Saya masih penasaran, kok jajanan cuma ini tapi anak2 membawa uang sampai Rp 5000. Kemana mereka jajan karena saya tidak melihat anak2 bergerombol di beberapa warung kecil didepan sekolah. 

Masuk di halaman sekolah, mata saya terpesona melihat pemandangan anak-anak yang sedang mengerumuni 2 orang ibu. Yang satu menjual nasi bungkus dan minuman dingin, dan yang satunya menjual permen, biskuit dan balon. 
Minuman kemasan, biskuit, ataupun permen sama sekali tidak saya kenal merknya. Dijual antara Rp 500 hingga Rp 2000. Sekarang saya tahu, kemana uang saku yang diberikan orangtua mereka. Tapi ada juga yang menyisihkan untuk ditabung.
Hari itu hari Senin, waktu dimana upacara bendera diadakan. Kacau, anak2 kelas 1 dan 2 yang tidak bisa berbaris dengan tertib, ditambah anak2 kelas 6 yang dinilai guru2 tidak bisa diatur. Hmm...tidak bisa diatur atau guru2 tidak bisa mengatur :-) Saat inspektur upacara sedang berbicara, seorang guru tiba2 keluar barisan dan mencabut rumput. Heh? Mencabut rumput. Kurang kerjaan, pikir saya. Setelah beberapa rumput tercabut, beliau lalu kebelakang barisan, kira2 dibarisan kelas 3 atau 4. Dia membungkuk dan kumpulan rumput itu ditebaskan kebetis2 mungil anak2. Alasan? Hanya karena tidak bisa diam :-(
Upacara bendera usai. Anak2 berhamburan menuju kelas masing2. Jumlah kelas tidak sebanding dengan jumlah murid. Ada dua kelas yang mengharuskan murid2 belajar ditempat seadanya. Satu diemperan kelas dan satu lagi ditempat semacam pondok yang bocor sana-sini ketika hujan.

Anak2 kelas 1 belajar pendidikan jasmani dilapangan. Belajar baris-berbaris. 
Anak2 kelas 2 belajar matematika. Belajar perbandingan berat. Mana yang lebih berat, gelang yang beratnya 2 ons 35 gram atau kalung yang beratnya 253 gram. Jawabannya 2 ons = 10 ons + 10 ons. Jadi 20 ons + 35 gram = 55 gram. Jadi lebih berat kalung. Dan sayapun tercengang
Anak kelas 3 belajar Bahasa Indonesia. Bercerita mengenai pengalaman yang mengesankan. Tampak membosankan dan guru menyuruh anak2 senam dikelas :-)
Anak2 kelas 4 belajar Matematika. Belajar mengenai sifat2 segitiga yang ditulis hingga memenuhi papan
Saya lewatkan kelas 5
Anak2 kelas 6 belajar Bahasa Indonesia. Belajar membuat pidato perpisahan sekolah. Ketika salah satu anak maju dan membacakan pidatonya, saya menilai cukup bagus. Kemudian saya melirik seorang anak yang sibuk mencatat dengan buku teks didepannya. Sayapun meminjam buku teksnya. Dan ternyata, pidato yang dibacakan si anak didepan kelas sama persis dengan contoh pidato pada buku teks. Hanya diganti nama sekolah dan kepala sekolahnya...oh!
Saya dan Bahri duduk disudut sekolah sambil merenung. Tampak Bahri sedang memikirkan sesuatu.
"Mbak Han, saya miris membayangkan para koruptor yang bersenang2 dengan uang yang bukan haknya. Coba uang itu dipakai untuk meningkatkan pendidikan yang lebih baik". Kamu tidak sendirian Bah, balas saya.

Catatan ini dibuat bukan maksud membuat malu pihak sekolah atau menjual keprihatinan kepada donor. 
Catatan ini untuk kita yang mau berpikir, apa yang bisa kita lakukan.. Bukankah manusia yang baik adalah yang banyak memberikan manfaat kepada sesama.

Oh iya, ketika melihat foto2 yang akan diupload, ada sebuah foto yang membuat saya tertegun. Seorang guru sedang memanggul "senjata" untuk menertibkan anak2. Siapa yang mau ditembaknya? ;-)

Comments

Popular posts from this blog

Belajar memanah @ Baliwoso Camp

Mesin cuci

Dokter kandungan atau bidan?