SNMPTN

Tadi malam saya chat dengan seorang kawan baik yang anaknya sedang menunggu pengumuman SNMPTN. Tengah malam hasilnya keluar dan anaknya tidak lulus. Saya mencoba memberi dukungan karena saya juga mengalami hal yang sama. Tidak lulus ketika ikut UMPTN. 


"This is not the end, it's just a beginning"


Keluar dari zona aman, tidak pakem atau beda bukanlah hal mudah untuk dijalankan. Dulu saat teman2 saya yang tidak lulus PTN, PTS atau sekolah diluar negeri adalah pilihannya. Saya juga ikut ujian tapi hanya untuk mengukur kemampuan saja, walaupun 2 PTS menerima saya. Termasuk sebuah perguruan tinggi di negara bagian Texas. Tapi ibu saya berseloroh, "ngapain kuliah di Texas? Mau jadi koboi?" sebuah alasan sederhana seorang ibu yang tidak rela anak satu2nya harus kuliah jauh...hehehe.

Terus ngapain dong? Saya memutuskan ke Bandung dimana teman2 saya semasa sekolah jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Maklumlah kami semua setia berteman dari SD hingga SMA...masa' setelah itu deket2an lagi...ih, bosanlah...hahaha.

Setahun sambil menunggu UMPTN berikutnya, saya isi dengan ikut bimbingan belajar intensif, mengasah kemampuan bahasa Inggris dengan native speaker disebuah institut, menjelajah Bandung dan sekitarnya, berkumpul dengan pecinta alam, nonton konser...jadi tidak ada istilah "menganggur".

Saya sms teman saya tadi pagi...
By doing something else, I hope her life become more richer than her peers and I am pretty sure about this ;-)

Comments

Anonymous said…
loh, jadi mbak hani dulu kuliah di bandung? bukannya di ambon ya? eh atau bimbelnya di bandung tapi trus kuliahnya di ambon? :)
ndutyke said…
tidak semua orang punya kesempatan untuk libur satu tahun.
buanyak sekali hal yg bisa dilakukan sepulang dari les di bimbel.
hal2 yg nanti kalo sudah kuliah, kerja dan menikah.... mungkin sulit untuk dilakukan krn keterbatasan waktu :)
masrafa.com said…
Aku gak pernah ikut UMPTN, jadi gak ngerti gimana usaha untuk ikut tes dan rasa deg2an saat nunggu pengumuman. Alhamdulillah hidup gak suram. Hihihihi.

Pingin banget cari beasiswa mbak. Tapi itu artinya harus ningggalin anak-anak sama bapaknya. Malah lebih sedih dibanding sekolah lagi disini.
smngat y.. :) bkn akhir dri sglax.. kn bsa ikut SPMB..
iklan baris said…
wah.. qt senasib y.. huhuhu..

Popular posts from this blog

Belajar memanah @ Baliwoso Camp

Mesin cuci

Dokter kandungan atau bidan?