I want to ride my bicycle

Saya senang bersepeda. Selama suatu tempat masih bisa dijangkau dengan sepeda, saya lebih memilih untuk bersepeda. Empat tahun lalu, kota Mataram, tempat saya tinggal masih nyaman bersepeda dijalan raya. Kemudian saya punya kesempatan untuk melanjutkan studi ke Selandia Baru. Wah pasti menyenangkan bersepeda disana, pikir saya.

Ternyata bayangan saya salah. Hamilton, kota tempat saya tinggal yang berbukit serta lokasi kampus yang berada didaerah perbukitan menjadi alasan utama. Nggak kuat naik-naik ke puncak bukit…hehehe. Selain jalan kaki karena rumah saya lumayan dekat dengan kampus, numpang mobil teman atau minta antar suami jadi pilihan (berhubung saya nggak bisa nyetir…hehehe). Tapi setelah punya pembimbing dan ruang kerja disebuah center dikampus, kuantitas saya numpang mobil turun drastis. Gimana nggak, pembimbing saya dan beberapa staff center menggunakan sepeda ke kampus. Duh, malu dong masa' mahasiswa yang mengambil major dibidang pendidikan lingkungan kok terlalu banyak meninggalkan jejak karbon...hehehe. Ditambah kalau coffee morning, topik favorit yang dibicakaran adalah carbon footprint, bahan bakar ramah lingkungan, konsumsi energi, energi alternatif, dan lain-lain. Walaupun tetap tidak memilih sepeda, saya memilih jalan kaki. Mau summer kek, winter kek….jalan kaki deh. Tapi tidak dengan anak-anak. Mau summer kek, winter kek…pilihannya adalah sepeda. Mereka hanya jalan kaki jika ke sekolah. Selebihnya…ke toko, perpustakaan umum, ke rumah teman, sepeda pilihannya.

Sekembalinya ke Mataram, saya mulai bersepeda lagi. Maklum, kontur kota Mataram tidak berbukit seperti Hamilton. Anak-anakpun senang karena ibunya sudah mau menemani mereka bersepeda lagi…hehehe. Tapi sebetulnya saya shock dengan perkembangan kota Mataram. Jumlah kendaraan bermotor dijalan cukup meningkat tajam. Kalau sedang bersepeda dan berhenti saat lampu merah, duuuh…serasa selebriti karena jadi perhatian orang-orang yang naik mobil atau motor. Hari gini masih pake sepeda…mungkin gitu komentarnya…hehehe.

Suatu Minggu, anak-anak saya cukup surprised ketika melihat banyak orang-orang yang bersepeda di jalan raya. Saya hanya senyum-senyum. Bagaimana nggak, penduduk Mataram tumpah ke jalan raya dengan sepeda karena door prizenya sebuah rumah…hehehe. Ada atau tidak ada door prize saya dan anak-anak akan tetap bersepeda. Saya ingin menjadi contoh yang baik kepada anak-anak dan syukur apabila bisa menjadi contoh buat orang lain. Buat saya door prize bersepeda yang sebenarnya adalah udara yang bersih dan serta badan dan pikiran yang juga menjadi sehat

I want to ride my bicycle
I want to ride my bike

Comments

Lili said…
queen...emang lagu ini cocok banget
plus...suka banget bersepeda di udara yg bersih spti di Lombok...duuuh maaauuuuu
Linda said…
kapan mbk, kita sepedaan bareng ;)
Saya juga suka bersepeda maklumlah waktu SMP di Purwokerto alat transportasi yg hemat ongkos.

Sekarang tinggal di Jakarta masih tetap suka bersepeda tapi dekat2 rumah saja misalnya keliling komplek soalnya kalo ke jalan raya ngeri sama motor & mobil.

Kalo kapan2 ke Mataram bisa sepedaan bareng di pinggir pantai saat sunset duh pasti asyik banget :)
Anonymous said…
aku sepedaan kalau di kawasan kantor atau di kompleks rumah, di luar itu ngeri banget Han.

Salam, Anky
fifie said…
sekarang sudah banyak kog komunitas sepeda di lombok, aku sering ketemu kalo minggu pagi di udayana. malah suami temenku, dedengkotnya komunitas sepeda onthel di mataram. mereka sering bikin acara sepedaan bareng ke sengigi. malah kalo mendung, anaknya dijemput pake sepeda. yapi ya, baru untuk hobi, belum menjadi transportasi utama.
Anonymous said…
Saaayyyyyyy msh inget padaku kah???? ossy niiihhh... mama Aika. Aku pikir dikau dah gak ngeblog lho....

Popular posts from this blog

Belajar memanah @ Baliwoso Camp

Mesin cuci

Dokter kandungan atau bidan?