Etiquette dilemmas



Beberapa hari yang lalu secara sepintas, saya menonton Dr. Phil show disalah satu stasiun TV. Kebetulan yang dibahas adalah etiquette dilemmas dan salah satunya tentang pengalaman seorang ibu yang pertama kali membawa anaknya yang berusia 19 bulan naik pesawat. Diceritakan bagaimana dia dengan terpaksa tidak dapat melanjutkan penerbangannya karena crew pesawat memutuskan untuk menyuruhnya turun dari pesawat setelah si anak yang lagi lucu2nya itu mengoceh sepanjang peragaan keselamatan penerbangan. Padahal menurut penumpang lain, tidak ada masalah dengan ocehan si anak. Dengan rasa solidaritas, seorang penumpang akhirnya ikut turun sebagai tanda protes dengan kebijakan maskapai penerbangan itu.

Saya jadi ingat pengalaman Idris naik pesawat untuk pertama kalinya. Walaupun saya tidak punya masalah dengan anak2 sebelumnya yang juga pernah terbang ketika masih bayi, tetap saja rasa cemas itu ada. Maklum ini termasuk penerbangan yang cukup lama, 9 jam non-stop. Kekhawatiran tetap saja membayang...hmm, bagaimana kalau Idris rewel, bagaimana kalau penumpang lain jadi ikutan rewel karena suara tangisan bayi. Tapi saya ingat pesan abi untuk selalu tenang dan berdzikir supaya Idris juga merasa tenang.

Alhamdulillah penerbangan 9 jam ke Singapura mulus. Idris tidak rewel...bravo buddy! Tapi sebentar dulu...masih ada 9 jam transit di Singapura dan 2 jam penerbangan Singapura - Mataram. Walaupun udara yang drastis berubah, alhamdulillah Idris nyaman2 saja tuh ;). Dari Singapura ke Mataram, lagi2 saya harus bersyukur karena Idris terlihat nyaman. Walaupun sempat khawatir si Idris ikutan rewel karena ada seorang anak yang duduk berseberangan dengan saya sempat rewel. Sang pramugari dengan ramahnya membantu orangtua si anak jika ada yang dibutuhkan. Hmm...jarang2 nih ketemu pramugari yang seperti ini...hehehe

Ketika terbang dari Mataram - Jakarta, Idris juga tidak ada masalah. Tapi kekhawatiran muncul lagi setelah si Doel bercerita tentang pengalamannya ketika terbang dari Sydney - Christchurch dan bercerita tentang seorang anak yang menangis sepanjang penerbangan...waaah! Terbayang perjalanan saya masih panjang. Jakarta - Palembang. Terus selanjutnya Palembang - Singapura - Auckland.

Dalam perjalanan ke New Zealand dan transit di Singapura, saya memperhatikan seorang ibu dengan seorang anaknya yang saya perkirakan berusia satu tahun karena si anak sudah bisa merangkak dan berdiri. Sepertinya tujuan kita sama karena dia berada diseputaran gate untuk penerbangan ke Auckland. Si ibu tampak terlihat lelah meladeni anaknya yang begitu lincah merangkak kesana-kesini. Sedangkan saya duduk anteng memangku Idris yang asyik bermain dengan soft-toys-nya. Saya harus tetap tenang dan tetap berdo'a semoga Idris tidak rewel walaupun saya pikir dia pasti capek seperti saya karena sebelumnya kita menempuh penerbangan Palembang - Singapura dan transit di Changi selama 5 jam.

Ketika boarding, ternyata si Ibu yang saya perhatikan tadi duduk sejajar dengan saya. Semua mainan, makanan dan susu bayi dikeluarkan dan ditaruh dikantung depan tempat duduk. Hmm...sedangkan saya, semuanya saya simpan dalam ransel. Toh saya bisa jadi mainannya Idris. Tangan, ekspresi muka, dan perasaan tenang cukup untuk menghiburnya selama penerbangan 9 jam non-stop.

Pesawat belum take-off, si bayi mulai rewel. Si ibu makin tampak terlihat lelah dan mulai cemberut. Sedangkan Idris asyik saja saya susui. Sejam pertama si bayi masih rewel dan membuat penumpang diseberangnya mulai merasa kasihan dengan si Ibu. Ketika Idris sudah terlelap dibassinet, si bayi juga sudah terlelap setelah menghabiskan satu botol susu. Ketika dia akan ditaruh dibassinet, si bayi terbangun dan mulai melihat Idris yang sedang nyenyak tidur. Tangannya ingin menggapai Idris karena bassinetnya berdekatan. Waduh, saya yang jadi panik. Sedangkan ibu si bayi tampak cuek, mungkin kecapean. Kalau Idris terganggu, pasti dia bakal protes dengan menangis kencang. Untung si ibu akhirnya sadar dan mengambil si bayi dan menggendongnya. Setelah beberapa jam, akhirnya si bayi bisa tidur dipangkuan ibunya. Hingga pesawat landing dengan mulus di Auckland, si ibu sepertinya cukup terhibur karena anaknya tidak rewel. Sempat saya ngobrol sebentar, ternyata ini juga pengalaman pertamanya membawa bayi dalam penerbangan yang cukup lama. Orang2 bilang, nekat juga...hehehe

Memang tidak mudah membuat bayi ataupun anak kecil tetap tenang dalam penerbangan. Tidak mau diam, selalu aktif ataupun rewel adalah bagian dari dunia mereka. Kitanya yang harus memahami posisi masing2 sehingga etiquette dilemmas yang dialami si ibu dalam acara Dr.Phil show tidak perlu terjadi.

Comments

Nina said…
Mbak Haniii !!!
Apa kabar ??? ngomong soal penerbangan dgn baby, waduh waktu nina pulang taun lalu sama kezia (tanpa jeff) yang ada kezia nangis ribut sepanjang perjalanan, cuma sesekali aja tidur. Untung wkt itu ada Joi & fam yang bantuin bawa2 tas dan urusin semua.Menolong banget deh tuh Om Nayoan. ;))
Nah berdasarkan pengalaman itu, pas balik ke nz, kakak ku nyaranin supaya kezia diminumin antimo rasa jeruk sedikit biar tidur pulas & tidak rewel. Alhasil, sukses banget...anteng, tidur pulas, gak rewel kalopun bangun pasti happy. Hahaha....hidup antimo !!! ;p
funeno said…
wahhh hebat Idris, bravo!!
itu fotonya lucu sekali hehe..ati-ati jatoh tuh ;p
pengalaman 'diganggu balita' di pesawat copenhagen - bangkok, pas pisan di sebelah saya. jadi si pramugari ngasih saya seset kartu permainan berlogo thai air sebagai permintaan maaf..hehe..padahal saya gak protes loh..
jojo said…
wah Dris, kalo diibaratkan paket masakan indomie, kamu itu internet (indomie telor kornet), komplit, plit, plit.... udah guanteng, ga rewel, baik lagi, pokoknya beneran gunawan...:-)

jadi dah balik ke Hamilton toh? April ini aku ditawarin training ke OZ dua minggu tapi milih untuk melewatkan kesempatan ini, ga kuat rasanya kalo harus ninggalin anak-anak 2 minggu.

gimana anak-2 pas sampe sana? ga sampe lupa kan ngomong inggrisnya....?:-)
Anonymous said…
top bgt idris! bayi teladan nih, untung bgt ya mbak, gak rewel. jd lbh mudaaah

++retno
--ambar-- said…
Hani, saya termasuk yang agak sebel kalau ada bayi nangis. Tapi enggak pernah protes, saya kira itu biasa kok terjadi sama anak2. Kasus di teve itu ektrem kali ya. Eh nama maskapainya apa sih?
Linda said…
Mbak Hani jadi mainan si Idris? hehe...
linda said…
mbak, kapan ke jkt lagi? jangan lupa kabar kabari ya ;)
siwoer said…
alhamdulilah ra rewel, la nek rewel, emak'e lak melok bawel :P

wis balek neng londo kono to mak?!
Lili said…
ummi hani, dah balik ke NZ yaa.

BAru ajah kemarin Syafiq jg di ajak naik pesawat pertama kali. secara penerbangannya gak terlalu lama, hanya jkt-kl. jadi no problemo.

Tapi Alhamdulillah waktu fawwaz ke nz jg masih kecil dan dia tidak terlalu rewel, karena di pesawatnya bnyak permainan game seru.. jadi dia sibuk sendiri sampai akhirnya ngantuk sendiri dan tidur sendiri..he.he.

Abi dah ada temannya lagi dong...
Devi said…
Halo Hani, salam kenal ya. Kunjungan pertama nih, nemu link ini dari bloghopping.

Thanks ya buat sharing pengalamannya. Saya sendiri sih blm punya anak, tp kebayang deh gimana repotnya jadi ibu yg sering bepergian :)
Since-Yen said…
Syukur Idris 'gak rewel selama penerbangan.
Pernah sih sekali waktu penerbangan balik ke Belanda ada anak yang duduk pas di belakang aku yg rewel mulu. Ibunya sampe bingung brusaha mbujuk anaknya. Yaa.. kasian juga sih sama si ibunya tapi ya dimaklumin aja namanya juga anak kecil. Eh ternyata ada penumpang yg duduk di baris seberang yang terganggu dan mulai mbentak-bentak tuh anak, Gila, jadi sebel banget, bentakan2 tu penumpang justru sangat mengganggu daripada suara tangis anak itu. Ugghh... Untung anaknya juga cepet capek en tidur jadi ibunya bisa tenang.
Domba Garut! said…
Hm.. ini perihal klasik! Inget dulu jaman 2 krucil itu masih bayi banget.. jadi sebelum terbang, pas taxiing - mereka dibuatkan minum/nge-dot atau nyusu supaya tekanan udara dan perubahan atmospheric saat lepas landas gak bikiin mereka rewel karena asyik ngedot.. itu sih kuncinya - anjuran pediatrics kita. Alhamdullillah lancar nggakpake banyak "ngak-ngek-ngok"..

Ada kalanya bayi pasti rewel karena tidurnya gak nyaman di basinette selama penerbangan dan ibu-nya juga para-legel karena hrs terbang New York - Jakarta yg notebene 20 jam lebih, pasti pegel bgt utk nge-gendongnya terus dipelukan. Jadi ya harus sabar kalau mereka rewel dikit, jgn dicubit2in.. hehehe!

Seneng udh bisa mampir kesini lagi. Salam kangen dari Afrika Barat!
Kampret Nyasar said…
Lanjutan:

kemaren sempet cuti mudik 1 bulan di JKT - sayang anak2 gak libur jadi dirumah aja sebagai Pak Erte.

Ohya!..anak2 sekarang dah gede lho.. dan yang kecil aja udah nanyain "Bunda, aku mau minta dibelikan adik baru dong!" --> mampus gak sih?

Bundanya bilang: "Nanti yah kita beli di Hypermarket Giant.." - sambil kedip2 kearahku. :-)
Anonymous said…
Idris memang luar biasa... kayaknya sudah ngerti sama harapan ibunya. Nggak rewel dan malah senyum2 terus :D
doel
Mamah Ani said…
waah..Idris pinter ya nggak rewel....mungkin bayi temen sebelahnya itu ikutan nggak rewel, malu sama Idris yang anteng kali ya....
Anonymous said…
ya ampun, idris lutunaaaa pantes aja kakak2nya rebutan mo ngasuh idris!!! gemes abissssssssss liat fotonya di kereta gitu, bei di supermarket mana sih mbak??? hehehe


Yuana

Popular posts from this blog

Belajar memanah @ Baliwoso Camp

A Forest of Fables

Martha Stewart