Prihatin

Pekan lalu saya asyik nemenin abi yang lagi ngajar selam. Kebetulan muridnya adalah orang dari Departemen Kelautan dan Perikanan yang pernah mengajarkan saya cara transplantasi karang. Saya senang berdiskusi dengan beliau karena orangnya asyik :) Akhir pekannya saya kedatangan teman yang tulisannya membuat saya terkagum-kagum, Atta. Karena tujuannya sama, akhirnya Atta saya ikutkan kedalam rombongan dan kami berakhir pekan di Lombok Timur.

Hari Senin, dengan kondisi sakit gigi karena kabanyakan ngemil cumi2...hehehe, saya harus ke warnet karena komputer belum sempat diambil setelah diperbaiki. Saya sempat chatting dengan Abhi yang menyatakan prihatin dengan kondisi busung lapar di NTB. Haaa...busung lapar? Karena hampir pekan lalu saya tidak nonton tv jadi hampir tidak tahu berita aktual. Karena hari Selasanya saya harus kelapangan, baru kemarin saya seharian nonton berita di tv dan rasa prihatin itu muncul ketika melihat berita2 tentang busung lapar di Pulau Lombok.

Pulau dengan segala keindahannya ini menyimpan kondisi yang membuat prihatin semua orang. Pulau yang selama ini selalu diberitakan dimedia cetak maupun tv karena memiliki potensi alam yang luar biasa tetap menjadi berita dimedia tapi kini potensi lain yang banyak dibicarakan, potensi yang mengancam kelangsungan hidup anak2 yang hidup didalam keluarga yang memiliki taraf hidup dan pendidikan yang rendah di pulau ini.

Sudah banyak anak2 menemui ajalnya dengan kondisi busung lapar. Kondisi pulau yang dikatakan surplus pangan ini tidak menjamin anak2 mendapat makanan yang layak. Apa yang diharapkan dengan anak2 yang hingga hampir umur setahun hanya diberikan bubur nasi saja?

Dan ternyata propinsi ini menduduki ranking 5 besar dari bawah dari segi pendapatan maupun taraf pendidikan. Ah, rasanya saya tambah prihatin...

Comments

Popular posts from this blog

Belajar memanah @ Baliwoso Camp

A Forest of Fables

Martha Stewart