Ke air terjun yuuuk!

Hari kedua lebaran, ada beberapa orang yang sepakat soft trek ke beberapa lokasi air terjun di Lombok Tengah. Abi dan Soel, adiknya, mau survey untuk grup mahasiswa Jepang bulan September. Kaori, istrinya Soel, mau membuktikan bahwa setelah ikut kelas yoga dia jadi kuat soft trek. Hanako, keponakan Kaori, mau menikmati cantiknya alam Indonesia. Dan saya, mau membakar kalori...hehehe

Desa Pemotoh di Lombok Tengah ternyata punya banyak air terjun. Mulai dari yang gampang diakses hingga yang susah diakses. Susah diakses artinya hanya bisa ditembus dengan jalan kaki dan tidak dengan kendaraan garda ganda.
Benang Setokel artinya benang gulung. Memang bentuknya sepertinya benang; tinggi dan sempit. Ini air terjun pertama yang dikunjungi karena dekat dengan lokasi tempat parkir kendaraan. Karena jalannya landai dan hanya menuruni anak-anak tangga yang tidak terlalu banyak, kapan bakar kalorinya, pikir saya. 
Setelah puas melihat air terjun Benang Setokel, dua orang guide yang mendampingi kami mengajak untuk ke air terjun Benang Kelambu. Sebelumnya saya sudah pernah kesini tapi dengan naik Land Rover teman hingga ke bukit dan hanya menuruni anak-anak tangga yang salah buat karena tingginya anak2 tangga dan berhasil bikin sakit paha. Kali ini kita lewat jalur berbeda walaupun nanti tetap harus lewat tangga2 heboh itu.

Saya menanyakan berapa jarak air terjun Benang Kelambu dari air terjun Benang Setokel dengan jalan kaki. Dengan entengya si guide bilang "Ah, deket kok bu". "Jalannya gimana?" tanya saya lagi. "Naik2 sedikit abis itu langsung turun" kata guide yang satu lagi. Saya mulai cemas, maklum sudah lama tidak pernah trekking ditambah ingatan anak2 tangga yang sungguh tidak ramah itu. Tapi karena dari awal niatnya mau membakar kalori, mariii!

Untung ada Abi yang selalu mendorong saya. Mendorong secara mental dan fisik. Naik2 bukit sedikit, si Abi dengan sigap mendorong saya dari belakang...hahaha.

Dinamakan air terjun Benang Kelambu karena memang menyerupai kelambu. Cantik! Di satu lokasi ada empat air terjun. 
Sambil menunggu yang lagi asyik narsis diseputaran air terjun, saya menunggu ditangga. Maksudnya yang lain sudah pada asyik merendam kaki dikolam2 yang ada, saya baru sampai...hahaha. Ada pohon2 pakis yang tinggi menjulang dan mengingatkan saya kepada New Zealand yang menjadikan ferns sebagai simbol.
Setelah air terjun Benang Kelambu, kami melanjutkan ke air terjun yang ketiga. Waduh, harus melewati anak2 tangga itu lagi. "Ganbatte, Hani san" teriak Kaori memberi semangat. Dengan menaiki anak2 tangga dengan sangat lambat, akhirnya sampai juga diatas. Eits, tapi belum selesai. Masih ada tanjakan dan turunan untuk sampai ke air terjun yang ketiga. Ah, hampir saya tergoda dengan tawaran ojek. Antara gengsi dan niat membakar kalori, saya memutuskan untuk tetap jalan walaupun sudah pakai prinsip 5-5; 5 menit jalan, 5 menit stop.

Jalan menuju air terjun yang ketiga cukup terjal. Dalam perjalanan, saya menanyakan nama air terjun yang ketiga. Tapi karena terlalu konsentrasi mengatur napas, jadi mendengarnya sambil lewat...hahaha. Dari kejauhan, suara gemuruh air terjun membuat penasaran. Ketika menurun dan berbelok kekiri, komentar saya cuma "Wow!" melihat air terjun didepan saya. Saya menanyakan kembali nama air terjun dan dijelaskan nama plus cerita2 mengenai air terjun. Tapi karena terlalu menikmati suasana, lagi2 saya jadi lupa...hehehe.

Saya pikir setelah 3 air terjun urusan soft trek selesai. Ternyata masih ada yang ke-4. Wah saya lupa kalau ada dua orang yang niat soft treknya karena mau survey. Nasib. Tapi lumayan, bisa membakar kalori lagi. 
Saya sudah tidak minat untuk tahu banyak tentang air terjun yang ke-empat ini. Maklum, sudah kepikiran naik2nya itu lho. 
Di beberapa tempat, banyak orang yang menggelar tikar dan menjual makanan ringan dan minuman. Untuk mengatur napas, saya numpang duduk ditikar disalah satu penjual. Karena tidak niat membeli dan daripada dia kecewa karena saya cuma numpang duduk, gantinya saya jepret aja deh penjualnya. Apa hubungannya ya...hehehe










Comments

Fifie said…
Lumayan capek kan naiknya,hehehe. Aku stengah jalan naik ke benang kelambu, hbs tu takut plgnya tepar, jadi putar balik. Kalo nanya ke guidenya, jawabannya dekeetttt kog bu. Skrg bersih gak mbak ? Eksotis, cuma sayang terganggu pemandangan orang buang sampah sembarangan :(. Hiks hiks hiks, jd kangen eksotis lombok

Popular posts from this blog

Belajar memanah @ Baliwoso Camp

Mesin cuci

Dokter kandungan atau bidan?