Ulang tahun, Tas belanja, Sorghum dan Hersheys

Hari ini si kakak ulang tahun yang ke-18. Sudah 5 tahun belajar agama di pondok dan belajar hidup mandiri. Tahun ini InshaAllah naik kelas 6 kemudian menjalani pengabdian selama 1 tahun dan setelah itu kuliah . Menjadi librarian adalah pilihannya semenjak di intermediate school. Sekarang abi dan ibunya yang heboh    karena sibuk antara memberi pilihan hidup mandiri dinegeri sendiri atau negeri orang :-)
Ibu saya yang sangat teliti dengan urusan bahan makanan sering komentar dengan beberapa bahan makanan seperti tahu, ikan atau sayur yang dibeli oleh si bibi yang membantu dirumah. Supaya komentar tidak semakin panjang, akhirnya saya memutuskan untuk mengambil alih tugas ke pasar. Kangen juga ritual ke pasar tradisional yang biasa saya lakukan dan saya harus absen karena harus sering berangkat pagi-pagi ke beberapa desa dampingan.

Saking seringnya absen ke pasar tradisional, saya selalu lupa bawa keranjang belanjaan. Dan perasaan bersalahpun menggunung ketika pulang dengan membawa tentengan beberapa tas plastik :-( Tidak ingin perasaan bersalah itu berlanjut, saya cari kios yang menjual tas belanja. Dengan membayar 14 ribu rupiah, saya mengurangi penggunaan tas plastik. Seorang penjual sayur tersenyum dan mengangguk setuju ketika saya sodorkan tas saya untuk menaruh jahe dan oyong tanpa tas plastik :-)
Karena flu, beberapa hari saya memilih untuk tidak kemana-mana. Alhamdulillah flu-nya sudah mulai berkurang jadi saya bisa mengajak Idris jalan-jalan di kebun. Ketika sedang asyik berbincang dengan penjaga kebun, saya mengamati tanaman jagung yang tingginya tidak normal (saking tingginya) dan sepertinya ada yang aneh. Oh! Ada sorghum di kebun saya.

Saya tahu tanaman sorghum ketika seorang pejuang pangan dari NTT mengenalkannya pada sebuah konferensi. Sudah lama saya penasaran dengan sorghum. Tidak perlu bertandang ke NTT karena saya punya di kebun sendiri. Sebentar lagi bisa panen kata si penjaga kebun. Jadi saya bisa segera menikmatinya. Mau buat apa ya...bubur, wajik, kue kering. Ada yang mau menambahkan :-)
Pesan bijak ketika belanja adalah membawa catatan supaya ide untuk membeli diluar catatan bisa dihindari. Ibu tadi minta tolong dibelikan vim untuk membersihkan panci. Karena vim jarang saya temukan disupermarket kecil, jadi saya pilih supermarket besar dan yakin vim pasti ada. Selain vim saya ingin membeli tisu yang nyaris habis ketika saya flu. Tisu sudah ditangan dan ternyata vim tidak ada. Ketika melewati bagian makanan, Miska bertanya apakah saya tidak ingin membeli beberapa bungkus quaker oats biscuits. Beli ah, karena biskuit ini sering sekali habis stoknya. Lewat bagian produk susu, Idris bertanya apakah dia boleh membeli eskrim. Oh iya, minggu ini kita belum beli eskrim. 1 pak eskrim mini dan 1 kotak eskrim 400 ml membuat saya harus mengambil keranjang.

Saya buru-buru mengajak anak-anak ke kasir melewati bagian coklat dan...Miska dan Idris serempak bilang "ibu, beli coklat whittakers!" Begini deh kalau kangen coklat NZ. Tapi ketika sedang memilih, saya melirik coklat-coklat yang cukup familiar disebelah Whittakers. Hersheys! Sudah lama saya tidak makan Hersheys. Setelah berkompromi dengan anak-anak, kamipun memilih Hersheys. Adil! Anak-anak bisa memilih crisped rice, mr goodbar atau milk choco sedangkan saya lebih memilih dark chocolate-nya.

Well, sebaiknya tetaplah ingat pesan bijak ketika belanja kalau tidak mau menggesek kartu debit untuk membayar barang-barang diluar catatan :-)


Comments

Popular posts from this blog

Belajar memanah @ Baliwoso Camp

Mesin cuci

Dokter kandungan atau bidan?