Airport

Banyak bepergian dengan menggunakan pesawat membuat saya punya pengalaman menyinggahi airport-airpot diberbagai tempat. Saya suka airport Bontang, kecil, bersih dan suhu yang sejuk cenderung dingin dari beberapa pendingin udara berukuran besar. Mungkin karena Bontang terletak digaris khatulistiwa dan memiliki suhu udara yang cukup tinggi sepanjang tahun. Airport Lombok tidak pernah sepi dengan rombongan penjemput para tenaga kerja yang pulang dari Malaysia ataupun Timur Tengah dan membuat airport ini terkesan kumuh dan kusam walaupun masih tergolong baru. Kalau airport Bali apalagi kalau bukan isinya para wisatawan. Wisatawan Australia paling gampang dikenali dengan aksen Inggris-Australianya yang khas dan biasanya suka pakai sandal kemana-mana, wisatawan Cina atau Taiwan biasanya bepergian dalam rombongan. Wisatawan domestik hampir mirip, kalau pergi dalam rombongan biasanya karena disponsori perusahaan, berseragam dan menenteng banyak tas oleh-oleh...hehehe. Ketika menjemput suami dan anak-anak di airport Auckland, teman saya yang orang Chile berkomentar. Payah orang New Zealand, ketika bertemu dengan kerabatnya yang baru tiba, tidak seekspresif orang Chile. Saking ekspresifnya orang Chile, ketika melihat kerabat yang tiba nongol dibalik dinding kaca, mereka langsung berciuman dengan pembatas dinding kaca! Ada-ada saja.

Banyak pengalaman menarik ketika berada di airport. Ketika transit di airport Sydney, terus terang saya panik karena belum sholat dan bingung mau sholat dimana. Sambil celingak-celinguk mencari tempat dimana saya bisa sholat, tiba-tiba datang seorang ibu dan anak laki-lakinya menghampiri saya. Dia menanyakan apakah saya sudah sholat yang langsung saya jawab belum. Si ibu mengajak saya mencari tempat untuk  sholat bersama...Alhamdulillah. Waktu di airport Los Angeles, saya dikira orang Filipina dan si porter dengan santainya membawa saya ke counter check-in Philippine Airlines. Dan saya nyaris membayar 400 dollar karena kelebihan bagasi (1 koper saya isinya semua buku hasil perburuan summer sale...hehehe). Berkat negoisasi, akhirnya saya "cuma" bayar 100 dollar. Seorang petugas bea cukai airport Auckland pernah tertegun ketika melihat ada 2 pak rokok kretek dan 2 pak rokok putih hasil pembelian di Duty Free Shop didalam tas. Sambil mesem2 saya menjelaskan bahwa itu pesenan kok :-)

Pernah tidur di airport? Pernah dong :-) Saya sengaja mengambil penerbangan malam dari Brisbane ke Melbourne dan supaya hemat, saya memutuskan untuk tidur di airport karena pesawat ke Bali adalah pagi hari. Ah, ternyata tidak ada bangku yang nyaman untuk tidur disekitar airport. Untung Azka tidak rewel dalam urusan tidur. Tapi ya terbangun bolak-balik sambil memandang hotel Hilton diseberang airport (sekarang nama Parkroyal Melbourne Airport Hotel). Sambil melamun...enak juga kali ya bisa tidur nyaman di Hilton. Paginya ketika dalam antrian check-in Garuda, saya agak bingung membaca jadwal Garuda di layar monitor yang baru akan terbang sore hari. Waduh, bakal tambah panjang lagi menunggu di airport. Dan memang betul penerbangan ditunda hingga sore. Penumpang boleh memilih untuk kembali ke kota yang jaraknya 40 menit atau menunggu di Hilton hingga sore. Tentu saya memilih menunggu di Hilton dong, bisa mandi air hangat dan tidur dikasur empuk beberapa jam...hehehe

Waktu kecil, orangtua mengajarkan saya untuk tertib ketika bepergian dengan menggunakan pesawat. Satu jam sebelum keberangkatan sudah harus check-in di airport. Dan selama menunggu waktu boarding adalah waktu yang kadang membosankan karena saya diajarkan untuk tidak membeli sesuatu diairport. "Apapun yang dijual di airport harganya sudah dinaikkan dua kali lipat". Ketika saya sudah bisa melakukan perjalanan sendiri, tidak ada lagi kata tertib. Saya suka last-minute check-in dan suka membeli snacks plus majalah yang secara sadar saya tahu bahwa harganya memang tinggi. Tapi kebiasaan yang suka bikin sport jantung alias takut ketinggalan pesawat itu kini berubah menjadi kebiasaan untuk berlama-lama menikmati airport. Mungkin karena sekarang banyak airport yang menawarkan suasana nyaman serta untuk membeli secangkir kopi dan camilan relatif tidak mahal lagi buat ukuran saya.
Well...airport adalah tempat dimana saya bisa menikmati aroma kopi yang tajam dari sudut sebuah cafe sambil menyeruput kopi dingin dan mencoba mengasah ketajaman berpikir dalam menulis cerita-cerita perjalanan...






Comments

Popular posts from this blog

Belajar memanah @ Baliwoso Camp

A Forest of Fables

Martha Stewart