Pesantren



Saya baru saja selesai membaca Negeri 5 Menara. Cerita yang mengingatkan saya kepada pengalaman Khansa dan Tsaqif menyelami hari2nya belajar di pesantren...

Keputusan setengah hati...sama seperti sang tokoh, Alif, hal yang sama juga dialami Khansa dan Tsaqif ketika mengetahui bahwa mereka akan melanjutkan sekolahnya di pesantren sepulangnya mereka dari Selandia Baru. Ini rencana lama, jauh sebelum kami berangkat ke Selandia Baru. Walaupun rencana lama, referensi saya tentang pesantren tidak juga bertambah. Ah...seharusnya saya membekali diri dengan referensi yang banyak dan baik tentang pesantren sehingga ketika menghadapi anak2 yang memang sudah pandai berargumentasi, saya tidak perlu kehilangan akal dan mengeluarkan pernyataan yang bersifat doktrin.

Beberapa kali saya mengunjungi Khansa dan Tsaqif tapi hanya untuk beberapa jam. Padahal mereka ingin sekali saya menginap. Tapi melihat kondisi kamar mandi dan tempat penginapan yang tidak memenuhi selera saya, saya selalu enggan untuk menginap. Penolakan2 kecil seperti ini selalu saya utarakan kepada abi dan teman2 saya ketika bercerita tentang pesantren. Tidak sedikitpun saya berbicara hal2 yang lebih baik dari itu. Akhirnya Khansa dan Tsaqifpun selalu mengamini hal2 sepele seperti itu walaupun banyak hal2 baik yang juga mereka ceritakan selama di pesantren.

Hingga akhirnya sebuah pelajaran yang berharga saya petik sebagai hikmah, saat mengantar Tsaqif ke pesantren setelah liburan panjangnya. Dia menolak dan menangis ketika tiba digerbang pesantren. Padahal sepanjang perjalanan dia baik2 saja. Dia sama sekali menolak untuk turun dari mobil. Padahal dia harus mencontreng namanya yang menandakan dia sudah hadir di pesantren dan lewat pukul 12 santri yang tidak mencontreng namanya dinyatakan belum hadir. Ketika itu jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Tidak ada tanda2 dia mau turun dari mobil. Saya kontak kerabat yang juga belajar di pesantren. Tidak mempan. Beberapa santri yang tidak saya kenal juga ikut merayunya. Dengan kemampuan bahasa Inggrisnya yang baik, dia cukup dikenal walaupun Tsaqif tidak pernah bercerita tentang itu. Saya coba kontak ustadz yang sudah kami dikenal sebelumnya. Sama saja. Akhirnya urusan mencontreng namanya diwakilkan atas bantuan beberapa ustadz.

Mau tidak mau akhirnya saya harus menginap di pesantren. Tidak di wisma2 tamu yang biasanya digunakan oleh orangtua santri, tapi dimobil menemani Tsaqif. Tengah malam Tsaqif mau turun dari mobil dan saya temani dia untuk sholat di mesjid. Saya duduk diluar sambil mengamati beberapa santri lagi sholat tahajjud. Ada kedamaian menyelimuti saya. Sambil memandang langit yang dipenuhi bintang, saya memanjatkan do'a agar dimudahkan segala urusan...

Subuh menjelang, pesantren sudah ramai oleh santri2 yang hendak menjalankan sholat subuh di mesjid. Melihat wajah2 yang selalu dibasuh air wudhu...entah apa yang saya pikirkan. Yang jelas damai kembali menyelimuti hati saya. Tsaqif masih menolak, tapi saya tidak ingin sebagai prajurit yang kalah perang...saya terus berdo'a...berdo'a dan terus berdo'a. Apel pertama tinggal 1 jam lagi. Bila Tsaqif absen, maka sia2 urusan contreng tadi malam karena absen pagi adalah hal yang menyatakan santri siap belajar kembali.

Alhamdulillah, akhirnya dia mau diajak ustadznya untuk ikut upacara dan absen. Walaupun masih setengah hati...dia ikuti semua perkataan ustadznya. Dan sayapun meluncur ke Surabaya, mencari Gramedia dan membeli novel Negeri 5 Menara. Mengunjungi sahabat dan langsung ke airport.

Semalam dipesantren dan Negeri 5 Menara telah memberi saya pelajaran untuk mengenal lebih baik tentang pesantren karena kebetulan pesantren yang diceritakan adalah pesantren tempat Tsaqif sekarang belajar. Saya teringat pesan pimpinan pesantren ketika apel pagi waktu itu..."para ustadz disini ikhlas mengajar kalian, dan kalianpun seharusnya ikhlas menerima pelajaran dari para ustadz" Dan sayapun sepatutnya ikhlas mendo'akan mereka...InshaAllah

Comments

Anonymous said…
Jd inget anakku di her sunday Islamic school-nya.
hari pertama tdk mau ditinggal, pegangin kaki ayahnya tdk boleh pergi. akhirnya ayahnya ikut sekolah, duduk di kelasnya sampai habis ..
next week-nya ada kemajuan, bs ditinggal pas lunch time. next week-nya nambah lg, bs ditinggal dr pg dan "lumayan" kt gurunya nangisnya sampai lunch time aja hehe..sekarang, alhmdulillah she's happy :)

Rani
Riana said…
Mbak Hani, terharu baca postingmu, saya masih belum bisa membayangkan hrs pisah dg anak2 & menyekolahkan mereka di pesantren, untung mereka masih kecil2 *excuse*...
fifie said…
setuju, negeri 5 menara mengubah pandanganku tentang pesantren. bahkan terpikir untuk menyekolahkan anak di pesantren. dan lagi2 niat ini ditentang keluarga besar. padahal anaknya baru TK A, heheheh. two thumbs up deh buat novel ini
Pernah ada pikiran aku+suami mau menyekolahkan Nikki di pesantren, suatu hari kelak. :D Tapi entahlah, saat ini belon mantap. Hehehe... rasanya berat ya, jauh ama anak.
Tiara said…
Hallo Tante Hani... Apa kabar..? Lama nggak main kesini.. hehehe

Wah... Tante juga baca Buku Lima Menara ya...!! Sama dong..

Bukunya memang top banget deh.. Apalagi buat Materanya... Aku jadi inget Papa, pernah nyari barang yang hilang didalam rumah... Terus papa baca mantera Wanjada Manjada.. Eh... tiba-tiba barang yang dicari ketemu... Hebat memang manteranya..

Ceritanya juga bagus..

Tante mampir ya ke blog aku.. Ada postingan baru... Jangan lupa commentnya ya..!

Salam Manis dari Ambon manise... :)
Tiara said…
Hallo Tante Hani... Apa kabar..? Lama nggak main kesini.. hehehe

Wah... Tante juga baca Buku Lima Menara ya...!! Sama dong..

Bukunya memang top banget deh.. Apalagi buat Materanya... Aku jadi inget Papa, pernah nyari barang yang hilang didalam rumah... Terus papa baca mantera Wanjada Manjada.. Eh... tiba-tiba barang yang dicari ketemu... Hebat memang manteranya..

Ceritanya juga bagus..

Tante mampir ya ke blog aku.. Ada postingan baru... Jangan lupa commentnya ya..!

Salam Manis dari Ambon manise... :)
Anonymous said…
Di Gontor terima murid dari umur berapa sih mbak?

Mau menyiapkan Rafa yg baru 8 tahun

Popular posts from this blog

Belajar memanah @ Baliwoso Camp

Mesin cuci

Dokter kandungan atau bidan?