Tuesday, September 30, 2008
Friday, September 26, 2008
Copy-paste
Saya selalu pandai memberi petuah saat teman2 saya merasa gerah karena tulisan ataupun fotonya diambil secara tidak etis alias tidak minta ijin. Dalam hati saya bergumam, ah nggak mungkinlah itu menimpa saya. Lha wong tulisan atau foto2 saya biasa2nya saja kok.
Tapi ketika tadi iseng mencari makanan khas Palembang di Google, mata saya tertuju pada sebuah foto pempek lenggang. Rasanya kok kenal ya dengan foto ini, dan taplak mejanya itu lho, kok sama persis dengan punya ibu. Klik postingan saya dan si peng-copy-paste (foto yang sama ada diside-bar)
Jadi, akhirnya saya menjadi salah satu dari sekian ribu orang diinternet yang hasil karyanya kena copy-paste :(
Tapi ketika tadi iseng mencari makanan khas Palembang di Google, mata saya tertuju pada sebuah foto pempek lenggang. Rasanya kok kenal ya dengan foto ini, dan taplak mejanya itu lho, kok sama persis dengan punya ibu. Klik postingan saya dan si peng-copy-paste (foto yang sama ada diside-bar)
Jadi, akhirnya saya menjadi salah satu dari sekian ribu orang diinternet yang hasil karyanya kena copy-paste :(
Sunday, September 21, 2008
Apa kabar?
Koru
Koru atau tunas pakis yang masih melingkar dan memiliki arti bagi orang Maori sebagai simbol dari kehidupan baru, pertumbuhan, kekuatan dan kedamaian. Itulah spirit yang kami bawa kembali ke tanah air.
Studi
Alhamdulillah, saya telah menyelesaikan program master saya sesuai dengan waktu yang direncanakan. Ini merupakan kado untuk Idris diulang tahunnya yang pertama karena saya selesai tepat saat Idris menginjak usia satu tahun. Saya jadi ingat ketika beberapa orang menyangsikan kemampuan saya mengatur waktu antara riset dan keluarga terutama ketika ada seorang bayi hadir tepat disaat saya memulai program master. Toh saya sudah membuktikan komitmen saya. Dan ketika sang penasehat akademik menawarkan perpanjangan waktu karena saya masih memiliki cukup waktu hingga kontrak studi saya selesai, saran itu ditolak oleh pembimbing saya. Kamu bisa tepat waktu kok, jawabnya mantap. Tapi dengan konsekuensi, saya harus meninggalkan New Zealand paling lambat 2 minggu setelah saya menyerahkan tesis saya.
Hmm…berarti acara jalan2 sangat terbatas. Daftar panjang tempat2 menarik di Pulau Utara New Zealand saya rampingkan, yang penting bisa mengunjungi beberapa teman dan Wellington.
Lombok
Kita sekeluarga sudah hampir dua bulan ditanah air, tepatnya balik ke Lombok. Lombok sudah banyak berubah. Ketika saya ke Lombok bulan Desember lalu, saya sudah diberi banyak kejutan. Terutama lalulintasnya yang semakin ruwet dengan motor yang jumlahnya semakin banyak. Dan sekarang masih banyak kejutan2 lainnya. Masih soal lalulintas, satu bulan pertama saya sama sekali tidak berani mengendarai motor, apalagi mobil (lha, wong saya ga bisa nyupir kok…hehehe). Ah! Kesal adalah ekspresi yang tidak pernah absen setiap kali saya mengendarai motor.
Rumah
Hmm…ini hal lain yang membuat saya uring2an. Selama dua tahun, rumah kita kontrakkan kepada seorang kawan. Kita sudah tau konsekuensi rumah yang dikontrakkan. Tapi bagaimana si kawan memberlakukan rumah kita dengan seenak udelnya…wah! Cari perkara namanya. Dari kebohongan si pengontrak yang memindahkan barang2 tanpa seijin kita (mengakunya sudah minta ijin) yang menyebabkan buku2 kita yang sudah dipak rapi harus berselimutkan debu selama setahun terakhir. Itu baru satu, masih panjang daftar dosa yang dibuatnya dirumah saya. Untung si Abi cukup bersabar meladeni omelan2 saya terhadap si kawan itu. Hey, ini Lombok sayang! Bukan New Zealand dimana si landlord atau landlady dilindungi hak kepemilikannya. Toh akhirnya rumah bisa kami tempati kembali tanpa proses renovasi, walaupun mimpi saya ingin menempati rumah yang sudah kinclong sebelum memasuki bulan Ramadhan. Ternyata saya harus menerima apa adanya.
Pekerjaan
Saya masih jalan ditempat. Untuk sementara, pilot project yang direncanakan masih tersimpan dalam bentuk file dilaptop saya. Sebuah project idealis untuk menjawab hasil riset saya, bagaimana anak2 sekolah dasar yang tinggal didaerah pesisir mengerti tentang lingkungan pesisirnya dan bagaimana konsep mereka tentang keberlanjutan. Hasilnya adalah desain kurikulum muatan lokal yang bisa dikembangkan untuk anak2 sekolah dasar yang tinggal didaerah pesisir.
Anak-anak
Karena Khansa dan Tsaqif InshaAllah akan masuk pesantren, jadi saya yang menemani mereka belajar materi ujian masuk. Tidak semua, karena urusan menulis Arab ada teman yang lebih kompeten ;-)

Sedangkan Azka dan Miska, saya dan Abi sudah sepakat untuk menjalankan homeschooling. Kenapa homeschooling? Saya masih yakin bahwa pendidikan dasar anak adalah dari rumah. Selama kami masih bisa menjadi fasilitator buat mereka, kenapa tidak. Toh kita fleksibel karena kita bukan orangtua yang super duper bisa dalam segala hal. Banyak yang kangen sama Idris. Dia sibuk jumping dan main air tentunya ;)
Makan yuuuk!
Well, selamat menikmati hidangan buka puasa

