Gelar akademis
Alhamdulillah, saya telah menyelesaikan program Postgraduate Diploma in ... naaah, ini yang sempat bikin bingung. Ketika tandatangan kontrak untuk program beasiswanya sih programnya Postgraduate Diploma in Education. Tapi ternyata kedudukan saya yang berada disebuah centre yang secara administratif berada dibawah School of Education dan School of Science, memberi saya peluang untuk memilih. Bisa Postgraduate Diploma in Education, Postgraduate Diploma in Science atau juga Postgraduate Diploma in Science Education. Buat saya...it doesn't matter. Setelah ngobrol dengan pembimbing dan atas pertimbangan 4 paper yang saya ambil adalah science, maka pilihannya adalah Postgraduate Diploma in Science Education.
Saya sepertinya bercermin kepada orangtua saya. Mereka tidak pernah menambahkan gelar akademis dinama mereka. Bagi mereka yang penting adalah mengamalkan ilmu yang didapat dibangku kuliah.
Waktu pemerintah mulai mengganti nama2 asing dengan nama Indonesia termasuk gelar akademis, teman2 saya banyak yang cemberut. Bagaimana tidak, mereka sudah membayangkan gelar insinyur menempel didepan nama mereka, tapi toh yang diterima adalah Sarjana Teknik...nggak keren, alasannya.
Terus terang, sebenarnya menurut saya sah-sah saja menaruh gelar akademis. Toh mereka berjuang untuk mendapatkannya. Berjuang dalam konteks benar2 belajar dan tidak pakai jalan pintas lho. Tapi kok rasanya aneh menaruh semua gelar akademis. Semua sudah tahu khan untuk mencapai gelar doktoral harus melewati pendidikan S1 kemudian S2 dan seterusnya. Nah kalau ditaruh semua, yang berabe bisa orang lain. Dan kebetulan yang ketiban tidak enaknya adalah teman saya. Dia sempat bingung mengatur format 2 nama pembimbing skripsinya yang ingin nama dan gelar akademisnya disertakan semua. Kebetulan 2 pembimbingnya adalah pemegang gelar doktor dan yang lebih "parah" nama pembimbingnya panjaaang pula. Akhirnya atas persetujuan kedua pembimbingnya, namanya yang disingkat dan tinggal nama keluarganya saja.
Ini lain lagi dengan si Abi. Sama seperti istrinya, dia tidak mau menaruh gelar akademis dinamanya. Tapi, ada pengecualian. Dia taruh gelar akademisnya di SIMnya. Alasannya? Untuk nakutin2in polisi. Lho?! Gelar Sarjana Hukum cukup ampuh kalau kena tilang. Dan benar saja. Beberapa kali kena tilang, dia cukup melihatkan SIMnya dan si Abi cukup bilang "saya ini pengacara lho pak, jadi saya tahu aturan dan hukum" dan loloslah Abi dari urusan tilang...hehehe
Sekarang saya mulai masuk program master. Pemibimbing saya sebelumnya menyarankan untuk memilih Master of Science dibanding Master of Education. Atas pertimbangan karena program S1 saya adalah science dan akan lebih mudah bila nantinya saya akan ambil program PhD dibidang Science. Ketika melakukan pendaftaran, kebetulan yang mengurus adalah sekretaris program pasca-sarjana di School of Education dan otomatis program yang diambil adalah Master of Education. Walaupun pembimbing sempat mengerutkan dahi tapi maklum karena kalaupun nanti saya ingin melanjutkan jenjang pendidikan yang lebih tinggi lagi atau mencari pekerjaan dibidang science, toh saya bisa membuktikan melalui latar-belakang pendidikan saya yang memang science. Tapi bagi saya sekali lagi...it doesn't matter ;)
Saya sepertinya bercermin kepada orangtua saya. Mereka tidak pernah menambahkan gelar akademis dinama mereka. Bagi mereka yang penting adalah mengamalkan ilmu yang didapat dibangku kuliah.
Waktu pemerintah mulai mengganti nama2 asing dengan nama Indonesia termasuk gelar akademis, teman2 saya banyak yang cemberut. Bagaimana tidak, mereka sudah membayangkan gelar insinyur menempel didepan nama mereka, tapi toh yang diterima adalah Sarjana Teknik...nggak keren, alasannya.
Terus terang, sebenarnya menurut saya sah-sah saja menaruh gelar akademis. Toh mereka berjuang untuk mendapatkannya. Berjuang dalam konteks benar2 belajar dan tidak pakai jalan pintas lho. Tapi kok rasanya aneh menaruh semua gelar akademis. Semua sudah tahu khan untuk mencapai gelar doktoral harus melewati pendidikan S1 kemudian S2 dan seterusnya. Nah kalau ditaruh semua, yang berabe bisa orang lain. Dan kebetulan yang ketiban tidak enaknya adalah teman saya. Dia sempat bingung mengatur format 2 nama pembimbing skripsinya yang ingin nama dan gelar akademisnya disertakan semua. Kebetulan 2 pembimbingnya adalah pemegang gelar doktor dan yang lebih "parah" nama pembimbingnya panjaaang pula. Akhirnya atas persetujuan kedua pembimbingnya, namanya yang disingkat dan tinggal nama keluarganya saja.
Ini lain lagi dengan si Abi. Sama seperti istrinya, dia tidak mau menaruh gelar akademis dinamanya. Tapi, ada pengecualian. Dia taruh gelar akademisnya di SIMnya. Alasannya? Untuk nakutin2in polisi. Lho?! Gelar Sarjana Hukum cukup ampuh kalau kena tilang. Dan benar saja. Beberapa kali kena tilang, dia cukup melihatkan SIMnya dan si Abi cukup bilang "saya ini pengacara lho pak, jadi saya tahu aturan dan hukum" dan loloslah Abi dari urusan tilang...hehehe
Sekarang saya mulai masuk program master. Pemibimbing saya sebelumnya menyarankan untuk memilih Master of Science dibanding Master of Education. Atas pertimbangan karena program S1 saya adalah science dan akan lebih mudah bila nantinya saya akan ambil program PhD dibidang Science. Ketika melakukan pendaftaran, kebetulan yang mengurus adalah sekretaris program pasca-sarjana di School of Education dan otomatis program yang diambil adalah Master of Education. Walaupun pembimbing sempat mengerutkan dahi tapi maklum karena kalaupun nanti saya ingin melanjutkan jenjang pendidikan yang lebih tinggi lagi atau mencari pekerjaan dibidang science, toh saya bisa membuktikan melalui latar-belakang pendidikan saya yang memang science. Tapi bagi saya sekali lagi...it doesn't matter ;)






