Friday, July 20, 2007

Gelar akademis

Alhamdulillah, saya telah menyelesaikan program Postgraduate Diploma in ... naaah, ini yang sempat bikin bingung. Ketika tandatangan kontrak untuk program beasiswanya sih programnya Postgraduate Diploma in Education. Tapi ternyata kedudukan saya yang berada disebuah centre yang secara administratif berada dibawah School of Education dan School of Science, memberi saya peluang untuk memilih. Bisa Postgraduate Diploma in Education, Postgraduate Diploma in Science atau juga Postgraduate Diploma in Science Education. Buat saya...it doesn't matter. Setelah ngobrol dengan pembimbing dan atas pertimbangan 4 paper yang saya ambil adalah science, maka pilihannya adalah Postgraduate Diploma in Science Education.

Saya sepertinya bercermin kepada orangtua saya. Mereka tidak pernah menambahkan gelar akademis dinama mereka. Bagi mereka yang penting adalah mengamalkan ilmu yang didapat dibangku kuliah.

Waktu pemerintah mulai mengganti nama2 asing dengan nama Indonesia termasuk gelar akademis, teman2 saya banyak yang cemberut. Bagaimana tidak, mereka sudah membayangkan gelar insinyur menempel didepan nama mereka, tapi toh yang diterima adalah Sarjana Teknik...nggak keren, alasannya.

Terus terang, sebenarnya menurut saya sah-sah saja menaruh gelar akademis. Toh mereka berjuang untuk mendapatkannya. Berjuang dalam konteks benar2 belajar dan tidak pakai jalan pintas lho. Tapi kok rasanya aneh menaruh semua gelar akademis. Semua sudah tahu khan untuk mencapai gelar doktoral harus melewati pendidikan S1 kemudian S2 dan seterusnya. Nah kalau ditaruh semua, yang berabe bisa orang lain. Dan kebetulan yang ketiban tidak enaknya adalah teman saya. Dia sempat bingung mengatur format 2 nama pembimbing skripsinya yang ingin nama dan gelar akademisnya disertakan semua. Kebetulan 2 pembimbingnya adalah pemegang gelar doktor dan yang lebih "parah" nama pembimbingnya panjaaang pula. Akhirnya atas persetujuan kedua pembimbingnya, namanya yang disingkat dan tinggal nama keluarganya saja.

Ini lain lagi dengan si Abi. Sama seperti istrinya, dia tidak mau menaruh gelar akademis dinamanya. Tapi, ada pengecualian. Dia taruh gelar akademisnya di SIMnya. Alasannya? Untuk nakutin2in polisi. Lho?! Gelar Sarjana Hukum cukup ampuh kalau kena tilang. Dan benar saja. Beberapa kali kena tilang, dia cukup melihatkan SIMnya dan si Abi cukup bilang "saya ini pengacara lho pak, jadi saya tahu aturan dan hukum" dan loloslah Abi dari urusan tilang...hehehe

Sekarang saya mulai masuk program master. Pemibimbing saya sebelumnya menyarankan untuk memilih Master of Science dibanding Master of Education. Atas pertimbangan karena program S1 saya adalah science dan akan lebih mudah bila nantinya saya akan ambil program PhD dibidang Science. Ketika melakukan pendaftaran, kebetulan yang mengurus adalah sekretaris program pasca-sarjana di School of Education dan otomatis program yang diambil adalah Master of Education. Walaupun pembimbing sempat mengerutkan dahi tapi maklum karena kalaupun nanti saya ingin melanjutkan jenjang pendidikan yang lebih tinggi lagi atau mencari pekerjaan dibidang science, toh saya bisa membuktikan melalui latar-belakang pendidikan saya yang memang science. Tapi bagi saya sekali lagi...it doesn't matter ;)

Tuesday, July 10, 2007

Popok

Anak pertama
Pakai popok katun dan hanya pakai popok sekali pakai ketika bepergian

Anak kedua
Idem seperti anak pertama

Anak ketiga
Mulai kenal betapa praktisnya popok sekali pakai. Sehingga malam hari lebih memilih popok sekali pakai

Anak keempat
Popok sekali pakai mulai mendominasi pemakaiannya baik siang maupun malam (ini mah bukan karena praktis, tapi kalau malasnya kumat...hehehe)

Anak kelima
Pagi, siang, sore, malam...pakai popok sekali pakai.

Duuuh...ma'afkan saya yang jadi tidak ramah lingkungan. Winter begini, alasan praktis jadi duduk diurutan paling atas.

Tuesday, July 03, 2007

Idris Tangaroa Haq

25 Juni 2007

Saya mulai merasakan kontraksi sore hari. Saya hitung masih per satu jam. Tapi saya minta Abi untuk pergi kerja lebih awal karena bisa saja jarak kontraksi semakin dekat dan si Abi belum selesai kerja...khan repot jadinya nanti.

Kemudian menelpon Ibu Lisa, salah satu sahabat yang lagi menempuh jenjang program doktoralnya diuniversitas yang sama, untuk minta tolong Laras, anaknya, untuk menjaga anak2 kalau saya harus melahirkan malam atau esok harinya.

Setelah itu baru menyiapkan perlengkapan yang akan dibawa ke klinik. Duuuh...santai amat ya saya. Karena baru siap2, banyak akhirnya yang alpa walaupun sudah ada dalam list. Termasuk kamera yang belum dicharge baterainya.

Kontraksi semakin dekat jaraknya dan saya mulai khawatir karena si Abi belum pulang. Saya telpon Abi dan katanya setengah jam lagi selesai. Kemudian menelpon bidan dan menerangkan kondisi saya. Bidan saya memutuskan untuk menemui saya di klinik dalam 20 menit.

River Ridge East Birth Centre

DSC03779

DSC03780 DSC03782

Semenjak teman2 tahu bahwa saya hamil, mereka langsung merekomendasikan nama seorang bidan dan sebuah klinik dimana mereka sudah merasakan pelayanan kelas hotel bintang. Kemudian ditambah pengalaman yang tidak nyaman ketika seorang teman baik melahirkan di rumah sakit. Banyak hal2 yang bikin gemes rupanya, seperti sang suami tidak boleh menemani sang istri ketika malam hari kemudian tempat tidur yang untuk merubah posisinya saja harus dengan cara manual. Bukankah ini sudah terlalu kuno untuk standar rumah sakit negara maju seperti New Zealand.

Ketika diskusi dengan bidan masalah waterbirth, saya ingin tahu dong tempatnya seperti apa. Karena klinik bersalin berada persis disebelah tempat prakteknya, sang bidan menelpon salah seorang staff klinik untuk menemani saya melihat tempatnya.

Saya pikir, saya hanya akan ditunjukkan tempatnya saja dan dugaan saya meleset. Sang staff klinik mengajak saya tur keliling klinik mulai dari ruang resepsionis, kantor, tempat melahirkan, ruangan paska melahirkan hingga dapurnya.

DSC03751 DSC03765

Untuk ruang paska melahirkan, semua punya privasi yang baik. Dan soal makanan...hmm, nggak usah ditanya deh ;-)

Waterbirth

Saya mengenal waterbirth ketika menonton video mengenai makhluk cerdas bernama lumba2 yang punya keinginan tinggi terhadap kelahiran bayi manusia. Diceritakan bagaimana seorang peneliti Rusia bernama Igor Tscharkofsy melakukan penelitian tentang kelahiran bayi yang ditemani lumba2 di Laut Hitam. Komentar saya...luar biasa! Setelah itu, waterbirth berlalu dalam pikiran saya.

Hingga ketika hamil yang kelima ini, waterbirth muncul lagi dalam perbincangan. Saya sudah pernah mengalami induksi ketika melahirkan dan rasanya luar biasa tidak nyaman dan itu dua kali. Kemudian melahirkan secara normal tapi rasa trauma karena sakit kadang2 masih terbayang. Ketika hamil Miska, ada pilihan epidural, tapi dokter kandungan saya tidak menyarankan karena dia yakin saya bisa melahirkan tanpa harus menyuntikkan penahan rasa sakit kesum sum tulang belakang saya.

Terus terang saya ingin melahirkan dengan meminimalkan mungkin rasa sakit. Bidan saya menyarankan untuk waterbirth. Si Abi bilang kenapa tidak dicoba. Akhirnya saya mencari referensi di Google. Hmm...sepertinya menarik juga.

Ketika tiba diklinik, tidak sampai menunggu lima menit, bidan saya datang. Kemudian langsung menuju ruang bersalin. Dipasang alat untuk memonitor detak jantung bayi dan bidan menanyakan apakah saya ingin diperiksa dalam. Saya bilang iya karena penasaran sudah pembukaan berapa. Ternyata sudah bukaan lima dan atas persetujuan saya, air ketuban dipecahkan untuk mempercepat proses kelahiran. Hormon adrenalin yang tinggi membuat kaki saya gemetar dan tekanan darah sedikit tinggi. Kontraksi sempat menjadi lambat karena saya mengalami dehidrasi.

Sementara itu sang bidan menyiapkan air hangat yang dibubuhi cairan dengan aroma sitrus pilihan saya dibath up. Kalau ingin melihat bath upnya, bisa klik ini.

Saya memutuskan untuk jalan2 disekitar ruangan bersalin sambil ditemani Abi dan Ibu Lisa. Setelah minum 2 gelas dan cairan infus dipercepat, kontraksi mulai membuat saya semakin nyengir. Bidan menanyakan apakah saya ingin berendam diair hangat. Kenapa tidak pikir saya, toh sudah bukaan lima dimana kondisi tepat untuk berendam.

Air hangat dan aromaterapi memang membuat saya jadi benar2 rileks. Kontraksi yang dirasakan sebelum dan sesudah berendam memang jauh berbeda. Dua atau tiga kali merasakan kontraksi, rasanya saya sudah ingin "push". Dengan tenang sang bidan mengatakan "ok, you can push now" sambil sigap disamping bath up. Push yang pertama kurang kuat dan saya perlu menarik napas kemudian langsung dengan push yang kedua dan lebih semangat...dan dalam hitungan detik, saya merasakan sang bayi meluncur melalui jalan lahir dan langsung ditangkap sang bidan.

Tadinya saya membayangkan ketika bayi lahir, air dalam bath up akan bercampur dengan darah. Ternyata tidak sama sekali.

Kemudian sang bayi ditaruh didada saya dan bidan menyuruh si Abi untuk memotong tali pusarnya. Air dibath up kemudian dibuang, bayi diinjeksi vitamin K dan diserahkan ke Abi. Sedangkan bidan menunggu plasenta keluar. Setelah plasenta keluar, kemudian dibath up dibersihkan dari sisa darah yang keluar. Sayapun langsung mandi.

Setelah itu, saya langsung keluar dari bath up untuk dicek apakah ada robekan yang perlu dijahit. Dan salah satu keuntungan waterbirth, jarang sekali ada perempuan yang mengalami robekan. Betul juga!

Sambil menunggu kamar paska melahirkan disiapkan, bayi diserahkan kesaya untuk menyusui. Setelah kamar siap, ternyata saya cukup kuat untuk jalan. Tidak seperti pengalaman melahirkan sebelum2nya, dimana saya harus menunggu cukup lama untuk bisa berdiri, apalagi jalan.

Idris Tangaroa Haq

DSC03761

Nama Idris adalah pemberian dari Pak Alamsyah, salah seorang sahabat baik kami disini. Seperti nama anak2 yang lain, saya dan Abi ingin ada punya unsur lautnya. Tadinya saya menaruh nama Moana yang artinya Samudra yang dipakai di Hawaii atau Maori. Tapi ternyata nama Moana adalah untuk anak perempuan. Seorang teman berdarah Maori menyarankan nama Tangaroa yang artinya the guardian of the sea.

Idris Tangaroa Haq
Lahir dengan berat 3.5 kg dan panjang 56 cm