Wednesday, March 28, 2007

Kecele

Siapa sih tidak mengenal pepatah jangan pernah menilai buku dari sampulnya. Pasti dijamin kecele...betul nggak? Sudah berapa banyak cerita orang yang kecele karena hanya menilai sesuatu dari kemasannya saja tanpa menilai apa yang ada didalamnya.

Rumah yang saya tempati sekarang termasuk besar dan cukup mahal untuk ukuran mahasiswa penerima beasiswa seperti saya. Bukan mau berniat menyombongkan diri, tapi kebetulan ketika mencari rumah ditengah2 tahun didaerah kampus tidaklah mudah. Syarat lain yang saya cari, rumah harus masuk dalam zonasi sekolah karena kalau tidak begitu, anak2 tidak bisa terdaftar disekolah tersebut. Memang saya mencari sekolah yang dekat kampus juga agar anak2 cukup berjalan kaki saja kesekolahnya. Ternyata yang ada rumah dengan 4 kamar yang saya tempati sekarang.

Senin lalu rumah saya dibobol maling. Sepertinya si maling sudah mengamati rumah saya untuk sekian lama. Karena setiap pagi, saya, abi dan anak2 selalu keluar rumah dalam waktu yang bersamaan. Saya kekampus, abi mengantar Miska ke kindy dan anak2 jalan kaki kesekolahnya. Abi biasanya hanya butuh waktu 20 menit untuk mengantar Miska dan balik lagi kerumah.

Barang yang diambil hanya laptop plus modem dan kabel2nya. Si maling ternyata juga masuk ke kamar tidur saya dan membongkar lemari. Sepertinya sih mencari uang. Tapi saya tidak pernah menyimpan uang tunai dikamar. Lha mahasiswa gini, mana sih punya uang dalam jumlah besar kalo nggak karena menang undian...hehehe.

Akhirnya daripada stress mikirin banyaknya kerjaan plus koleksi foto2 saya yang hilang dengan sukses karena tidak punya backup sama sekali, itu maling jadi olok2annya saya dan teman2. Yang jelas si maling kecele abis deh. Bagaimana tidak. Lha rumah saya aja yang gede, tapi gede bohong istilahnya. Apa coba isi rumah saya? Televisi...hmm jangankan menemukan tivi berlayar datar. Tivi dirumah berukuran 14 inchi yang merupakan titipan teman saya yang orang Thailand dan ketika dia pulang ke Thailand memutuskan untuk tidak meneruskan studinya disini. Radio tape...itu juga dapat dan dalam kondisi rusak. Fancy box dikamar saya...memang cocoknya sih diisi kalung mutiara, tapi saya isi dengan mug bergambar ikan. Kemudian...laptop merah bermerk Prestigio dengan pentium Centrino yang digondol si maling. Jangankan program2 tambahannya, Microsoftnya pun palsu. Itupun saya baru tahu setelah memasang broadband untuk laptop saya. Apalagi? Hmm...mobil van yang setiap pagi mengantar Miska ke kindy? Pasti si maling lihat dong mobil van berwarna hitam yang selalu ada didepan rumah saya. Ealah ling *maling, maksudnya...itu khan mobil yang dipinjamankan seorang sahabat kami yang baik hati.

Thursday, March 22, 2007

Undangan makan siang

Beberapa kali saya mendapat undangan makan siang di kampus. Biasanya ini diadakan oleh fakultas atau departemen yang berkaitan dengan centre dimana saya bernaung. Teman saya yang lebih pengalaman dalam hal acara makan siang dikampus sampai hafal menu yang bakal tersedia karena selalu dari katering yang sama. Saya jarang memenuhi undangan makan siang karena suka lupa (maksudnya keburu makan siang dan sudah keburu kenyang duluan...hehehe)

Sejauh pengalaman saya makan siang gratisan dikampus adalah ketika saya menghadiri acara seperti workshop, seminar ataupun konferensi. Menu yang ditawarkan tentu mengikuti selara bule dan vegetarian. Yah walaupun begitu not bad-lah.

Ketika ada undangan makan siang lagi yang diadakan oleh School of Science, supaya tidak lupa, sang pembimbing menempelkan undangan makan itu didepan pintu ruangan saya. Dan berhubung saya sudah melewatkan beberapa undangan makan siang, kali ini saya tidak ingin melewatkannya.

Sayapun wanti2 dengan teman baru diruangan saya untuk ikut acara makan siang. Maklumlah dia tinggal disalah satu akomodasi dikampus yang menyediakan makan pagi hingga malam dengan menu standar bule. Padahal dia orang Myanmar yang sudah terbiasa dengan nasi dan kari. Yah pikir2 variasi menu gitu.

Ketika acara makan siang, ruangan sudah dipenuhi mahasiswa dan dosen2. Ketika mendekati meja makan, pandangan saya langsung mencari makanan berlabel vegetarian. Wah ada spring roll...tapi kok tidak ada label vegetariannya ya. Biasanya kalo diacara seperti workshop sekalipun, spring roll yang disediakan berlabel vegetarian. Aha! Ada croissant isi yang berlabel vegetarian...lho kok ukurannya mini ya. Biasanya ukurannya sebesar kepalan tangan saya. Dan buah2an pun absen dari meja yang ada. Karena meja yang menyediakan makanan tidak lepas dari keramaian mahasiswa, sayapun jadi malas untuk bolak-balik mengambil makanan.

Setelah itu, belum jam 3, perut saya sudah protes...lapar! Begitupun dengan teman Myanmar saya. Kami akhirnya memutuskan untuk pulang lebih awal...mencari nasi yang bisa membuat tentram perut orang Asia, seperti kami.

Tuesday, March 06, 2007

Ring around the roses

Ring around the roses
A pocket full of posies,
Ashes, Ashes
All stand still.
The King has sent his daughter,
To fetch a pail of water,
Ashes, Ashes
All fall down.
The bird upon the steeple,
Sits high above the people,
Ashes, Ashes
All kneel down.
The wedding bells are ringing,
The boys and girls are singing,
Ashes, Ashes
All fall down.

Ring around the roses adalah salah satu lagu dari banyak lagu berbahasa Inggris yang saya ajarkan keanak-anak. Maksudnya biar mereka biasa dengan lafal Inggris walaupun pada akhirnya lafal maupun aksen mereka lebih kental daripada saya.

Tapi kali ini ada seseorang yang bukan tergolong anak2 minta saya ajarkan lagu ini dan juga beberapa lagu anak2 berbahasa Inggris. Apa karena supaya lafal Inggrisnya bagus? Oh, tidak juga. Lalu? Karena si Abi, seseorang yang minta saya ajarin lagu2 anak berbahasa Inggris itu, kini jadi guru renang untuk anak2 sekolah dasar. Salah satu metode mengajarnya adalah sambil menyanyi.

Terus terang saya terkagum2 dengan metode pelajaran renang disini. Untuk bisa mengajar berenang, walaupun dia jago berenang, tidak akan diperbolehkan mengajar karena seorang guru renang harus memiliki sertifikat yang merupakan standar nasional. Kecuali kalo mo ngajar berenang untuk kalang sendiri lho, ini beda lagi.

Karena si abi ingin punya pengalaman, maka dia ikut kursus standarisasi. Lumayan khan mungkin pengalaman ini bisa dibawa pulang ke Indonesia. Kursusnya standarisasi tidak lama, hanya sehari. Tapi modul yang diberikan sangat informatif. Setelah mengikuti kursus, si abi diharuskan menjadi asisten instruktur selama 20 jam dan setelah itu dia akan dapat sertifikat dan bisa mengajar sendiri.

Karena ingin lihat suami tercinta magang dibawah bimbingan instruktur, maka suatu hari saya ikut kekolam renang. Kursus berenang disini hanya seminggu dan lamanya hanya 30 menit setiap kali pertemuan. Setelah itu dijamin sudah bisa berenang gaya bebas, gaya yang pertama kali diajarkan dan ini beda dengan di Indonesia yang kebanyakan gaya dada dulu yang diajarkan. Sudah tentu ini didukung dengan metode pengajaran yang bagus.

Saya juga melihat bagaimana anak2 usia satu hingga tiga tahun belajar berenang. Menyenangkan sekali. Walaupun anak2 saya sudah mengenal kolam semenjak usia 6 bulan, tapi berhubung tidak didukung dengan metode yang bagus, yaaa sampai sekarang mereka sekedar bisa saja.

Si abi juga tertarik untuk mengajar anak2 usia dibawah 5 tahun dan untuk bisa mengajar berenang usia balita, si abi harus melewati kursus lagi. Dan sepertinya murid pertamanya bakal si bayi yang masih ada didalam perut nih...hehehe