Undangan makan siang

Beberapa kali saya mendapat undangan makan siang di kampus. Biasanya ini diadakan oleh fakultas atau departemen yang berkaitan dengan centre dimana saya bernaung. Teman saya yang lebih pengalaman dalam hal acara makan siang dikampus sampai hafal menu yang bakal tersedia karena selalu dari katering yang sama. Saya jarang memenuhi undangan makan siang karena suka lupa (maksudnya keburu makan siang dan sudah keburu kenyang duluan...hehehe)

Sejauh pengalaman saya makan siang gratisan dikampus adalah ketika saya menghadiri acara seperti workshop, seminar ataupun konferensi. Menu yang ditawarkan tentu mengikuti selara bule dan vegetarian. Yah walaupun begitu not bad-lah.

Ketika ada undangan makan siang lagi yang diadakan oleh School of Science, supaya tidak lupa, sang pembimbing menempelkan undangan makan itu didepan pintu ruangan saya. Dan berhubung saya sudah melewatkan beberapa undangan makan siang, kali ini saya tidak ingin melewatkannya.

Sayapun wanti2 dengan teman baru diruangan saya untuk ikut acara makan siang. Maklumlah dia tinggal disalah satu akomodasi dikampus yang menyediakan makan pagi hingga malam dengan menu standar bule. Padahal dia orang Myanmar yang sudah terbiasa dengan nasi dan kari. Yah pikir2 variasi menu gitu.

Ketika acara makan siang, ruangan sudah dipenuhi mahasiswa dan dosen2. Ketika mendekati meja makan, pandangan saya langsung mencari makanan berlabel vegetarian. Wah ada spring roll...tapi kok tidak ada label vegetariannya ya. Biasanya kalo diacara seperti workshop sekalipun, spring roll yang disediakan berlabel vegetarian. Aha! Ada croissant isi yang berlabel vegetarian...lho kok ukurannya mini ya. Biasanya ukurannya sebesar kepalan tangan saya. Dan buah2an pun absen dari meja yang ada. Karena meja yang menyediakan makanan tidak lepas dari keramaian mahasiswa, sayapun jadi malas untuk bolak-balik mengambil makanan.

Setelah itu, belum jam 3, perut saya sudah protes...lapar! Begitupun dengan teman Myanmar saya. Kami akhirnya memutuskan untuk pulang lebih awal...mencari nasi yang bisa membuat tentram perut orang Asia, seperti kami.

Comments

Nina said…
Lain kali suruh penyelenggaranya pesen catering ke nina aja mbak...dijamin deh kenyang nyang nyang. ^_^
orangcurhat said…
aduuh emang tu, kalo orang asia, kalo blom makan nasi, ga nendank katanya.. hehehhe
putri said…
Lain kali sambil bawa bekel nasi sendiri aja mbak hihihi..
--ambar-- said…
tetep perut nasi han..ngg bisa ditawar lagi :)
Anonymous said…
wakaka aku kok lupa kau punya blog ini han? hahaha
wah dasar perut Indonesia, no rice no life wakakaka

-maknyak-
Anonymous said…
Indonesia kaleeee... :)
Apa kabar Bu? Semoga semua sehat2 aja ya,
& have a nice wikend buat Hani & keluarga..


*Nisa
sa said…
perut indonesia atau keinginan bayi??? :D
MAY'S said…
saya juga dah makan bakso ato mie 3 mangkok sekalipun kalo belum ada nasinya kayaknya belum makan yach....
siwoer said…
NDESO! makane belajar makan pasta2an dong, biar kek bule beneran :D
Anonymous said…
Saya jarang ikut udangan seperti ini... lebih enak makan masakan sendiri. Kalaupun ikut, cuma ambil minum saja atau comot bolu kalau ada hehehe...
doel
syl said…
bu hani....
temen seruangannya orang myanmar ya.
salam dari syl yang tinggal di myanmar he..he..he.. tapi in 3 days i have to leave this country for goods hiks... hiks...

syl ceritanya lagi ngurangi carbs dibaca nasi. bisa sih 2 hari an ga sentuh nasi, tapi pas hari ke-3 menunya nasi goreng ha..ha..ha...
sinceyen said…
Daripada bolak-balik kan sekali ambil gunung salahutu gitu lho, Han :D
Luigi said…
Sama persis!
Kalau disini, biasanya kita makan dulu dari rumah kalau di undang pesta oleh kawan2 dari eropa atau kampret-kampret dari daerah balkan itu - sebab gak akan ada makanan apapun kecuali kripik2 dan olive(buah zaitun yang di asamkan) yang di tancap dengan tusuk gigi.. pernah sih saking laparnya di embat jug,tapi akhirnya ya gitu deh.. kentuuut terus gak berenti! :)

Popular posts from this blog

Belajar memanah @ Baliwoso Camp

A Forest of Fables

Martha Stewart