Tuesday, April 19, 2005

Jadi guru

Orangtua saya berprofesi sebagai guru. Bapak saya adalah guru olahraga dan geografi sedangkan ibu saya adalah guru TK. Walaupun profesinya guru, orangtua saya hidup berkecukupan. Tidak seperti cerita2 yang banyak kita dengar atau baca dimedia masa tentang nasib guru yang gajinya harus disunat atau bahkan tidak mendapatkan gaji dalam jangka waktu yang lama atau mereka yang harus mencari penghasilan tambahan untuk memenuhi kebutuhan hidup serta hidup dengan segala keterbatasan.

Sebagai guru yang mengajar pada sekolah diperusahaan multinasional didaerah Bontang, Kalimantan Timur, orangtua saya mendapatkan fasilitas yang sangat baik. Setelah pensiunpun, orangtua masih mendapatkan beberapa fasilitas dari perusahaan.

Walaupun bagi saya guru tidak identik dengan gaji kecil dan hidup prihatin, tapi saya tidak berminat atau bercita-cita menjadi guru. Kehidupan pinggir laut yang mulai akrab dengan saya ketika saya mulai memegang sertifikat junior openwater diver diusia 13 tahun membuat saya bercita-cita untuk menekuni bidang kelautan kelak. Ketika teman2 SMA saya memilih universitas2 besar di pulau Jawa sebagai tempat kuliahnya, pilihan saya untuk memilih universitas yang nyaris diujung timur Indonesia ini cukup menjadikan saya buah bibir diantara teman, guru dan orantua murid. Maklumlah, sekolah saya sekolah perusahaan yang notebene muridnya adalah hanya anak2 karyawan perusahaan itu dan saya sendiri satu angkatan tidak sampai 35 orang. Jadi wajar dong kalau jarum jatuhpun terdengar satu kompleks...hehehe.

Ketika jalan untuk menjadi seorang marine scientist tinggal satu langkah lagi, Allah memberikan jodoh buat saya. Kehadiran anak pertama membuat kehidupan sayapun berubah. Skripsi yang tadinya menjadi prioritas, saya ganti dengan prioritas anak. Buku2 referensi kelautanpun berubah dengan tumpukan buku2 cara merawat anak dan resep2 makanan untuk bayi dan balita. Kehadiran anak kedua yang hanya selang 1.4 tahun membuat prioritas skripsi saya drop hingga keurutan paling bawah. Rasanya saya tidak ingin lepas dari anak2 saya, menjaga dan merawat mereka, medidik mereka, mengajarkan mereka berbagai hal...tanpa saya sadari, rupanya saya telah menjadi guru bagi mereka.

Kondisi ini disadari oleh suami dan pembimbing saya. Akhirnya pembimbing saya mengijinkan saya untuk mengambil penelitian di Lombok. Ketika skripsi rampung, anak2 saya boyong ke ambon untuk beberapa bulan hingga saya ujian sarjana. Karena sempat kembali kedunia kampus untuk beberapa saat, keinginan saya lama saya untuk jadi seorang peneliti mulai bersemi lagi. Tapi rasanya terlalu idealis untuk menjadi peneliti kelautan yang harus tinggal cukup lama didaerah2 terpencil atau pulau2 atau berlayar hingga hitungan minggu untuk meneliti mamalia laut sesuai keinginan saya dulu.

Ada komunitas di wilayah pesisir yang kini menjadi perhatian saya, yaitu perempuan dan anak2. Anak2 yang setiap harinya mengkonsumsi hasil laut ini tumbuh besar dengan tingkat kesadaran akan lingkungannya yang minim. Terlintas keinginan untuk berbuat sesuatu. Saya ingin menumbuhkan nilai2 kecintaan dan kepedulian akan lingkungan diantara mereka.

Dan jadi guru adalah pilihannya...

Alhamdulillah, saya lulus seleksi tahap pertama beasiswa dari Pemerintah New Zealand. Rencananya saya akan mengambil Masters dibidang Curriculum Development and General Teaching. Tanggal 25-29 April saya akan ada di Surabaya untuk interview dan IELTS test. Dan mohon ma'af untuk sementara saya tidak bisa blogwalking karena saya harus belajar. Mohon do'anya ya :)

Wednesday, April 13, 2005

The Have

Halaman rumah si Abah

Ketika di Sajang, kami menginap di sebuah villa yang merupakan villa seorang teman SMA-nya Abi. Karena beliau keturunan Arab, penduduk sekitar memanggilnya Abah Jamal. Si Abah merupakan seorang pengusaha yang banyak memiliki usaha diberbagai bidang.

Luas areal villanya si Abah kurang lebih 14 ha. Terdiri dari perbukitan dan dataran. Untuk mencapai villa si Abah kita melalui jalan tanah yang sudah dikeraskan, mungkin sekitar 1 kilometer dari jalan besar. Fasilitas listrik dipasok dari PLN dan Abah yang memfasilitasi jaringan listrik dirumah-rumah penduduk disekitar villanya.

Sajang

Air? Sajang kaya akan sumber mata air. Dan si Abah memasang pipa sejauh 13 km untuk mendapatkan mata air tersebut. Kalau lihat foto diatas, sumber mata air untuk keperluan villanya, ada dicelah antara gunung itu.

Kebun bunga

Ketika si Abah rutin mengunjungi villanya, ada tukang kebun yang mengurusi kebun bunga yang memiliki 23 jenis bunga dataran tinggi. Termasuk tulip, katanya. Sayang karena terlalu sibuk, si Abah jarang berkunjung ke villanya dan si tukang kebun sudah kemana barangkali. Dan yang tersisa beberapa petak kebun bunga, yang masih tetap enak untuk dinikmati keindahannya.

Jeruk

Durian

Tidak hanya kebun bunga. Areal villa yang termasuk super duper luas itu ditanami berbagai macam tanaman buah. Jeruk, durian, lengkeng dan leci. Dan jalan2 dikebun buah si Abah lumayan membakar kalori saking luasnya.

Kambing etawa

Selain tanaman, si Abah memiliki peternakan kambing Etawa. Harga kambing ini untuk ukuran dewasa jantan (2.5th) sekitar 10 juta. Dan yang difoto adalah kambing jantan berumur 1 th. Besar banget ya.

Dari keseluruhan areal villa si Abah, yang baru diberdayakan baru 4 ha dan selebihnya belum.

Dan kamipun...Saya, Abi, adiknya Abi, temennya Abi dan Mbak Retno yang pada ikutan liburan itu mulai asyik bercanda dan berkhayal tentang rencana-rencana yang bisa diwujudkan di areal villa tersebut. Bangun kastil seperti di Skotlandia karena pemandangannya mirip kata Mbak Retno yang mengambil program Masternya di Skotlandia, buat kolam renang air hangat, buat outdoor game, war game yang pakai nembak2 pakai peluru cat dihutan2 dalam areal villa, buat green house untuk bunga2 potong dan sayuran...termasuk dalam khayalan kami.

Dan seandainya Anda jadi si Abah, apa yang akan Anda buat...

Saturday, April 02, 2005

Bukit Pergasingan

Bukit Pergasingan

Setelah 1 hari di Sajang, kita turun ke Sembalun yang merupakan tempat awal pendakian Gunung Rinjani selain Senaru. Kebetulan di Sembalun kita banyak kenalan yang merupakan teman2 yang aktif di pesantren pertanian, sebuah pesantren yang menitikberatkan kegiatannya pada pertanian yang selaras alam.

Sebenarnya saya orang yang cukup sering mengunjungi Sembalun. Tapi tidak pernah lihat pesantren pertaniannya, karena selama ini saya mampirnya ke rumah yang punya pesantren yaitu Pak Abdurrahman. Karena kebetulan saat itu penghuni rumah Pak Abdurrahman lagi pada di pesantren, akhirnya kita saya lihat pesantrennya juga.

Pesantren pertanian letaknya persis dibawah Bukit Pergasingan. Walaupun namanya bukit, tapi tingginya diatas 1000 meter. Saya jadi ingat sebuah gunung di Pulau Ambon, namanya Gunung Salahutu yang biasa dipakai mendaki oleh mahasiswa (saya sempat naik 3 kali) yang tingginya hanya sekitar 900 meter.

P1010093

Ketika di pesantren, saya tanya tentang Bukit Pergasingan. Menurut cerita, nama Pergasingan diambil karena waktu jaman kerajaan, raja2 senang naik ke bukit ini untuk bermain gasing. Wah terbayang betapa kuatnya fisik orang2 jaman dulu...mo main gasing saja pake acara naik bukit segala. Saya jadi tidak habis pikir, iseng banget ya mereka...hehehe.

Mereka iseng menawarkan untuk naik ke Bukit Pergasingan, hanya satu jam kok perjalanannya. Wah, menarik khan. Semua semangat pada ingin naik. Tapi berhubung hari itu sudah agak sore, akhirnya kita putuskan untuk bermalam di tempatnya Pak Abdurrahman yang memiliki beberapa bungalow dan rencana mau naik bukitnya keesokan harinya.

Saya mikir, waduh ini si Azka dan Miska gimana ya. Tadinya sih pengen cari porter untuk mereka, jadi mereka kalau capek bisa digendong porter. Cuma karena tidak berhasil dapat porter, dengan berat hati saya mengalah untuk tidak ikut naik dan nemenin Azka dan Miska dibawah...hiks :(

Besok Shubuhnya, mereka rombongan bersiap untuk naik, dan sayapun tarik selimut lagi, brrr...udaranya dingin banget, sekitar 10 derajat.

Dan inilah cerita mereka...

P1010097
Naik-naik ke puncak bukit. Khansa dengan riangnya naik bukit, itu terlihat dia masih pakai sandal abis itu sandalnya dicopot karena licin.

Pemandangan dari Bukit Pergasingan
Gunung Sangkareang

P1010122
Hallo...Tsaqif sudah sampai puncak *bangga*. Soalnya katanya Abi, sepanjang jalan, si Tsaqif bawaannya cemberut melulu...hehehe

Di Puncak

On the top

P1010124-1

Dan pemandangan dari puncak

P1010106

View

P1010110

P1010121
Doooh...si Oom Soel serasa dimana gitu :)

Avocado
Pulang dari Sembalun, kita bawa oleh2 alpukat yang dipetik dari halaman pesantren pertanian

Ada yang minat ingin naik Bukit Pergasingan, yuuuk...soalnya saya juga penasaran dan lagi nyari temen buat naik Bukit Pergasingan nih...hehehe

Sajang

Long weekend minggu lalu kita rencanakan untuk ke Sajang, daerah di kaki Gunung Rinjani. Sebelumnya kita sudah pernah kesini dan rupanya anak2 senang sehingga mereka minta ke Sajang lagi. Kebetulan Mbak Retno, temennya Abi waktu ikut Operation Raleigh juga lagi pengen menghabiskan long weekendnya di Lombok setelah sebelumnya harus presentasi di sebuah seminar di Mataram.

Puncak Pass

Menuju Sajang, bisa lewat dua rute, yang pertama lewat Utara menyusuri pantai barat pulau Lombok dan jarak tempuhnya sekitar 3 jam atau lewat Lombok Timur terus ke Utara langsung masuk Taman Nasional Gunung Rinjani dan jarak tempuhnya kurang lebih 2 jam perjalanan. Soal pemandangan selama perjalanan ditanggung tidak bikin bosen.

Kebetulan kita lebih senang lewat rute ke Lombok Timur masuk ke kawasan hutan Taman Nasional Gunung Rinjani. Foto diatas adalah Puncak Pass sebelum turun masuk kawasan Sembalun dan dari Sembalun hanya 10 menit ke Sajang.

Kalau dilihat, Mbak Retno seperti saltum alias salah kostum karena biasanya kalau ke Lombok biasanya dia kita ajakin main ke laut dan kali ini diluar kebiasaan...hehehe

Moonlight at Sajang

Kita sampai Sajang menjelang malam. Sampai disana, kebetulan lagi terang bulan. Pemandangannya bagus banget. Gunung yang tampak itu adalah Gunung Sangkareang.

Villanya Abah Jamal

Di Sajang kita menginap di sebuah villa milik temen SMA-nya Abi. Villanya asyik lho ;)

Good morning Rinjani

Foto diatas itu sekitar jam 6 pagi. Disebelah kiri itu Gunung Rinjani dan disebelah kanannya adalah Gunung Sangkareang. Dicelahnya itu terdapat Danau Segara Anakan.

Me and my family

Me and my family

Soel di kebun bunga

next posting...Bukit Pergasingan