Thursday, January 27, 2005

Sehari di rumah Pak Saleh

Pak Saleh adalah salah seorang teman baik dan sudah sering kerja bareng. Pak Saleh bisa dikatakan orang yang serba bisa...bisa jadi nelayan, bisa jadi boatman, bisa jadi guide lokal untuk memandu wisatawan yang mau ke pulau, bisa jadi pengusaha bibit mangrove...serba bisa bukan.

Rumah Pak Saleh berada di desa nelayan di daerah Sambelia di Lombok Timur, perlu 2 jam perjalanan dari Mataram. Kalau untuk liburan, biasanya kita pilih nyampe malam, karena bisa sekalian nunggu nelayan yang pulang mancing ikan karang atau cumi. Biasanya kalau ada nelayan yang bawa ikan atau cumi, langsung dibakar...hmm.

Tapi pas kita kesana, rupanya nggak ada nelayan yang mancing ikan atau cumi di daerah terumbu karang. Mereka semua pada melaut. Malam itu rupanya ikan dari jenis fusilier (waduuuh...saya ndak tahu nama indonesianya, tapi kalau ada yang ingin tahu, nanti saya carikan deh) lagi berlimpah. Karena kebetulan malam itu ada yang bongkar muatan ikan, jadi Pak Saleh dan istrinya sibuk menampung ikan hasil tangkapan.


Lumayan buat nambah2 cicilan kreditan motor :) Posted by Hello

Hasilnya empat ember besar. Setelah ikan dicuci, kemudian dilumurin garam kasar supaya awet. Besok paginya, penampung yang akan mengambil. Jadi Pak Saleh dan para nelayan tidak perlu repot2 lagi membawa hasil tangkapannya ke pasar.


Serabinya... Posted by Hello


Plecing kangkungnya pakai lontong? Posted by Hello

Setelah shubuh, pantai sudah ramai dengan orang2 yang menunggu para nelayan pulang. Sambil menunggu, biasanya ada yang menjual serabi dan plecing kangkung. Sebenarnya saya mengincar serabi yang pakai santan dan rasanya gurih. Tapi pagi itu, saya mesti kecewa karena si ibu tidak membuatnya. Si ibu penjual tidak membuat serabi yang pakai santan karena alasan habis hujan...lha, apa hubungannya coba.


Fresh from the sea Posted by Hello

Pagi itu tangkapan ikan jenis fusilier berlimpah. Para nelayan tinggal terima duit karena yang ngurus adalah para penampung.


Mau nambah ah... Posted by Hello

Setelah sarapan serabi, main pasir, berenang puas2...waktunya makan siang. Menunya nasi hangat, telur dadar, ikan goreng (bumbunya hanya asam dan garam saja, tapi rasanya...hmm) terus ada ikan kuah kuning (bumbunya juga simple karena hanya bawang putih, bawang merah, garam dan kunyit) dan tidak ketinggalan plecing kangkung yang rasanya...pengen nambah teruuuus.

Berminat berkunjung ke rumah Pak Saleh?

next posting...canoeing!

Tuesday, January 25, 2005

Pantai2 di Lombok Selatan

Silahkan menikmati keindahan pantai2 yang ada di Lombok Selatan.
Yang pengen komentar silahkan...
Yang pengen bisa menikmati langsung, ayooo saya temenin :)
Yang kesengsem...hush! jangan bengong aja...ayo nabung! kalau sudah cukup tabungannya, jangan lupa kontak saya ya...hehehe


Selong Belanak Posted by Hello

Walaupun ombak di Pantai Selong Belanak lumayan gede, tapi tetap menyisakan tempat untuk para penyelam yang punya nyali gede buat menikmati keindahan bawah lautnya...itu katanya si Abi yang pernah nyelem disana.

Kalau mau kesini, mesti ekstra hati2 karena rawan pencurian. Abis pantainya lumayan sepi.


Pemandangan diperjalanan dari Pantai Selong Belanak ke Pantai Mawun Posted by Hello


Pantai Mawun Posted by Hello

Pantai Mawun ini letaknya di Teluk, jadi perairannya cenderung tenang dan pantainya landai...jadi cukup aman untuk anak2 berenang. Pantai ini dikelilingi bukit dan pasirnya putih dan sehalus tepung


Pemandangan diperjalanan dari Pantai Mawun ke Pantai Kuta Posted by Hello


Pemandangan Pantai Kuta dari atas bukit Posted by Hello


Pantai Kuta...cantik mana ama yang di Bali ;) Posted by Hello

Di Pantai Kuta, banyak penginapan...mulai dari kelas backpakers sampai yang mau rela menghabiskan uangnya sekitar US$ 50 sehari untuk sebuah kamar standar, silahkan menginap di Novotel yang tidak jauh dari Pantai Kuta.


Tanjung An Posted by Hello

Tanjung An termasuk kawasan terpadu Lombok Tourism Development Cooperation (LTDC) yang digagas Bimantara Group. Dilahan LTDC yang nggak kehitung luasnya, direncanakan dibangun semua sarana pariwisata.

Tapi semenjak Pak Suharto lengser, kawasan ini jadi kena imbasnya. Investor mundur, tanah direbut lagi oleh masyarakat sekitar (karena masalah pembayaran yang tidak beres)...akhirnya nggak terawat deh.

next posting...Sehari di rumah Pak Saleh

Monday, January 10, 2005

Liburan

Kalo anak2 libur sekolah berarti...

Khansa ngajak camping di Teluk Ekas...
Tsaqif ngajak canoeing dan bird-watching di hutan mangrove di Gili (pulau kecil) Sulat di Lombok Timur...
Azka yang belum sekolahpun ikutan mengajukan program, ngajak main pasir dan berenang tiap hari di pantai...

Kalo sudah liburan begini berarti pula...

Libur nonton TV...
Libur nonton DVD atau VCD...
Libur maen games di komputer...
Libur nge-blog buat ibunya, karena kita bakal menghabiskan liburan ke tempat2 yang tidak punya fasilitas2 itu...
Dan libur adalah waktunya mengajarkan anak2 untuk dekat dengan alam dan pencipta-Nya...

Well, miss you all already ;)

Thursday, January 06, 2005

Sumbangan

Semenjak bencana gempa dan tsunami yang melanda beberapa negara Asia, rasanya semua orang turut bersimpati dengan menyumbang dalam berbagai bentuk...uang, pakaian, obat2an termasuk tenaga menjadi sukarelawan ke daerah2 yang dilanda bencana.

Di Lombok sendiri, posko kepedulian untuk Aceh dan Sumut ada dimana-mana. Di setiap perempatan di kota Mataram, di kampus dan sekolah, mall dan tempat2 lainnya. Yang ikut bergerakpun tidak hanya institusi atau lembaga resmi seperti pemerintah daerah, universitas, sekolah atau LSM. Hingga arisan RT-pun ikut menyumbang untuk Aceh dan Sumut.

Khansa dan Tsaqifpun menyumbang lewat sekolah mereka. Tapi sepertinya itu belum cukup untuk mereka. Khansa dan Tsaqif minta ijin saya membongkar celengannya agar uangnya bisa disumbangkan untuk Aceh. Kebetulan celengan mereka sudah penuh. Saya menawarkan mereka untuk menyumbang setengahnya saja dan setengahnya lagi bisa dipakai untuk beli buku atau apalah. Tapi mereka minta disisakan 2000 perak saja untuk membeli permen lolipop seharga 500 perak sebuah, jadi dengan uang 2000 perak bisa membeli 4 permen lolipop untuk mereka dan kedua adiknya.

Tidak hanya itu, mereka juga rela uang tabungannya disumbangkan untuk Aceh. Dan rupanya tidak sampai disitu saja, mereka ingin rencana liburan ke Yogya ditunda dulu karena uangnya bisa dipakai untuk disumbangkan ke Aceh. Abi dan saya sudah memberi saran, tidak apa2 nanti liburan itu bisa pakai uang tabungannya Abi dan saya. Tapi yah...mereka tidak mau. Dan perasaanpun saya antara haru, senang, bingung...entahlah.

Dan sepertinya, rencana saya untuk bernostalgia ke Yogya harus disimpan dulu. Rasanya untuk membahagiakan anak2, saya tidak perlu membawa mereka ke Yogya. Mereka sudah cukup bahagia dengan menyumbang, rupanya...

Monday, January 03, 2005

Penantian

Ketika gempa dan tsunami melanda Aceh, keluarga besar bapak termasuk dari ribuan bahkan mungkin jutaan keluarga2 yang menanti kabar berita dari keluarga mereka yang tinggal di wilayah Aceh yang terkena bencana. Adik bapak dan kami para keponakannya biasa memanggil beliau dengan Paklik Melik tinggal di Banda Aceh dan kalau dilihat dari lokasi kejadian, tempat tinggal beliau termasuk yang kena hantaman gelombang tsunami.

Setelah penantian 2 hari sehabis gempa dan tsuanami tanggal 26 Desember, kami mendapat kabar bahwa Paklik dan keluarganya selamat. Hanya keluarga istrinya, ada beberapa yang menjadi korban.

Ternyata...beberapa hari setelah itu, bapak telpon bahwa yang selamat itu hanya Paklik, istri dan anak satu-satunya dinyatakan hilang. Paklik bisa selamat karena pada saat kejadian, beliau ada di Langsa sedangkan anak dan istrinya ada di rumahnya di Banda Aceh.

Hari2 penuh penantianpun harus dijalankan lagi. Sepanjang masa penantian itu saya mencoba mengingat kembali tentang Paklik dan keluarganya. Semenjak kecil saya belum pernah bertemu beliau, karena ketika beliau meninggalkan begitu saja tugas akhirnya sebagai mahasiswa di UGM karena temennya menjiplak habis skripsi yang dikerjakannya, beliau pindah ke Aceh. Walaupun tinggal jauh di Aceh, saya tetap dapat kabar tentang beliau dari Bapak. Termasuk ketika beliau ditawan GAM karena disangka mata2 TNI, maklumlah sebagai pegawai di Departemen Transmigrasi, tugas beliau adalah keluar masuk hutan untuk mencari lokasi transmigrasi. Ketika beliau menikah dengan orang Aceh dan memiliki anak perempuan, sayapun tidak ketinggalan beritanya.

Pertemuan pertama saya dengan Paklik dan istrinya adalah ketika saya menikah. Istri beliau yang dari Langsa begitu ramah. Sayang anak perempuannya tidak bisa ikut, karena tidak bisa jalan jauh alias suka mabok. Pertemuan lain dengan Paklik dan istrinya adalah ketika sepupu saya menikah di Temanggung, Jawa Tengah. Sayang, saat itu saya ataupun sepupu2 yang lain tidak bisa bertemu dengan anaknya Paklik karena dia tidak ikut. Jadi anaknya Paklik adalah satu2nya sepupu yang belum pernah saya atau sepupu yang lain temui.

Dalam penantian...do'apun kami panjatkan, agar istrinya Paklik dan anaknya dalam kondisi apapun tetap dalam lindungan-Nya.

Dan tadi pagi, penantian itupun berakhir...setelah sepupu saya yang anggota TNI mendapat kabar dari rekan2 TNInya di Banda Aceh, bahwa istri dan anaknya ternyata selamat. Mereka sempat menyelamatkan diri ke bukit yang aman dari amukan gelombang tsunami. Puji syukur tak henti2nya kami panjatkan.

Dalam satu dua hari Paklik dan keluarganya akan dibawa ke Jakarta dan mungkin ke Temanggung untuk memulihkan kondisi dan trauma yang dialami oleh anak-istrinya. Sebenarnya kakak dan adiknya Paklik sudah lama menyarankan beliau untuk pindah dari Aceh semenjak kejadian beliau disandera GAM. Ketika gempa dan tsunami melanda Acehpun, keluarga besar Bapak tetap dalam penantian menunggu Paklik dan keluarganya, apakah mungkin mereka bersedia pindah dari Aceh...ah, tapi rasanya beliau begitu mencintai tanah rencong...karena disana hati dan raganya telah berlabuh.