Berpikir positif

Dua minggu lalu, Abi diajak temannya di Departemen Kelautan untuk menanam karang di Kepulauan Anambas. Kepulauan Anambas ini terletak antara Singapura dan Natuna Besar. Asli letaknya jauhnya dari mana2. Mau kesana saja pakai pesawat charter dari salah satu perusahaan minyak besar yang beroperasi di Laut Natuna. Kalau kondisi seperti itu, kemungkinan kontak melalui telpon genggam akan tertanggu. Maklumlah, telpon genggam khan tergantung dengan sinyal.

Setelah saya perkirakan Abi sudah sampai di Pulau Tarempa, salah satu pulau digugusan Kepulauan Anambas, saya coba sms Abi. Wah ternyata ada sinyalnya. Syukur deh, berarti khan nggak perlu libur ber-sms untuk beberapa hari.

Esoknya, Abi sms kalau dia mau nyelam. Setelah beberapa jam, saya coba sms Abi. Kok statusnya waiting. Saya coba lagi, waiting juga. Malamnya status sms-nya bukan lagi waiting tapi malah failed. Mulai deh pikiran saya campur-aduk mencoba mencari jawaban kenapa sms saya selalu failed.

Mencoba berpikir positif sudah pasti. Tapi kok setelah dua hari saya coba sms tetap failed dan kalau ditelpon selalu terdengar suara Abi "silahkan tinggalkan pesan Anda" Kalau sudah begini yang ada bukan pikiran positif lagi karena yang ada teori2 pikiran negatif yang muncul.

Hari Minggu sorenya, akhirnya Abi telpon.
"Sayang, hpku nyemplung dilaut makanya tidak bisa telpon kamu. Sekarang Abi di airport Surabaya, tiket ke Mataram sudak ok untuk nanti malam"
Maka berjingkrak2lah saya dan anak2.

BERPIKIR POSITIF...LAGI?

Abi datang ke Lombok dalam kondisi mau ambruk alias sakit. Waktu konsultasi dengan dokter ketika masih di Kepulauan Anambas, dokter bilang gejala malaria.

Saya telpon keponakan Abi yang dokter dan disarankan untuk tes lab. Si keponakan juga curiga itu adalah malaria karena disertai dengan gejala panas periodik dan sakit kepala yang luar biasa. Setelah baca hasil tes, malarianya negatif.

Karena belum menemukan penyakitnya, malamnya saya menemani Abi ke dokter langganan. Membaca hasil tes lab, malah katanya gejala hepatitis karena terlihat dari fungsi lever yang menurun selain kemungkinan deman berdarah dan malaria. Pak dokter menyarankan tes lab lagi. Waduh tes lagi? Biaya lagi dong. Bukan apa2, asuransi yang kami punya tidak menutupi biaya tes lab kecuali pasiennya kena rawat-inap. But the test must go on khan. Kalau Abi sih bukan stres bayarnya, tapi stres melihat jarum suntik, maklumlah dia rada2 fobia dengan jarum suntik...hehehe.

Setelah dokter membaca hasil tesnya, benar, positif malaria vivax. Kemudian saya tanya apakah perlu rawat-inap. Sambil bercanda sang dokter bilang, wah dirawat aja ama istrinya dirumah soalnya Abi kena malaria tapi seperti nggak kena malaria karena nggak pake acara muntah2, menggigil dan segala gejala2 malaria vivax pada umumnya. Wah, berarti gagal deh saya claimed ke pihak asuransi :(

Sekarang masalah obat. Duh kira2 berapa ya obat malaria plus obat untuk levernya karena fungsi lever abi yang menurun disebabkan oleh malaria vivax itu. Mana si dokter selalu memberikan obat paten yang harganya pasti mahal.

Ketika ke apotik Kimia Farma, obatnya tidak ada. Wah apotik sebesar Kimia Farma aja tidak ada stok obat untuk malaria dan lever. Dan pikiran sayapun bermain-main, duh pasti obat ini super mahal deh. Saya coba ke apotik Kimia Farma yang lainnya. Hasilnya sama saja, tidak ada! Setelah muter2 ketiga apotik Kimia Farma yang ada, saya iseng ke apotik kecil yang memang terkenal murah untuk urusan obat.

Sambil menunggu si apoteker menghitung biaya obatnya, pikiran semakin kacau mendengar orang2 lain yang harus membayar obatnya dengan angka2 fantastis 300 ribu, 500 ribu...lha kalau obatnya Abi berapa dong? Hmm, harap2 cemas menunggu...

Ketika namanya Abi dipanggil...

Apoteker : "Bapak Taufik"
Dengan langkah berat saya menghampiri loket kasir
Apoteker : "Resepnya Bapak Taufik ya"
Saya : "Iya" dengan suara lemas dan berat
Apoteker : "Lima ribu rupiah, Bu"
Saya : "Ha?!"
Dengan setengah kaget campur bingung
Saya : "Mbak ini khan ada 2 macam obat, totalnya jadi berapa?"
Apoteker : "Iya Bu, dua2nya harganya 5000 rupiah"
Saya : "Jadi 5000 ya"
Sambil tersenyum saya serahkan selembar uang 5000 rupiah dengan pasti ;)

Comments

Anonymous said…
Mbak Hani,

Salam Kenal sebelumnya :D Saya sedang membaca semua tulisan mbak Hani dari awal :D Semua saya nikmati sekali Terima Kasih tulisannya...

Itu obatnya namanya obat Kina bukan?! Soalnya waktu ayah saya sakit Malaria juga mesti nayri-nyari obat yang susaaaaah sekali ditemukan, Kita sudah khawatir obatnya mahal namun pas ketemu ternyata satu pil obatnya hanya seharga Rp.250 saja.

Salam Hangat,

Wenny

Popular posts from this blog

Belajar memanah @ Baliwoso Camp

A Forest of Fables

Martha Stewart