Taksi

Taksi merupakan alat transportasi favorit saya setelah ojek. Sedangkan bemo sebagai angkutan umum serta cidomo, cikar-dokar-motor, yang mirip dokar menjadi alternatif lain jika kepepet karena saya kurang suka dengan supir bemo yang rata2 suka bikin sport jantung karena suka sekali ngebut dan suka berhenti asal2an. Sedangkan cidomo, selain lama juga karena permintaan Miska yang ingin naik cidomo.

Ada 2 perusahaan taksi yang beroperasi di Mataram. Yang satu merupakan taksi dari perusahaan besar yang memiliki banyak cabang di kota2 besar di Indonesia, berwarna biru berlambang burung yang lagi terbang dan saya pikir rata2 orang disini maupun orang di kota2 besar memilih taksi ini Indonesia sebagai pilihan untuk mengantarkan mereka ketujuan. Dan yang satu lagi bercat putih dan rasanya tidak kalah nyaman plus aman untuk ditumpangi. Jadi mau yang biru ataupun yang putih bagi saya sama saja, tidak seperti di kota2 besar lain yang harus jeli memilih taksi berhubung maraknya tingkat kriminalitas yang terjadi didalam taksi dan kadang2 membuat orang merinding.

Karena seringnya berkendaraan dengan taksi, saya menjadi pengamat yang baik. Dari semua taksi yang mengantarkan saya pulang ke rumah, sang supir selalu berkomentar ketika memasuki gang perumahan rumah saya yang memang sempit dan cukup hanya untuk satu kendaraan. "Aduuuh bu, kenapa tidak dilebarin jalannya. Kadang ada orang yang duduk dipinggir jalan yang membuat saya jadi susah". Begitulah komentar para supir taksi.

Dilain waktu, ketika saya harus menggunakan taksi dari ibukota Lombok Tengah ke Mataram, kebetulan saya mendapatkan supir taksi yang ramah dan senang bercerita. Maka bergulirlah cerita sang supir selama 1 jam perjalanan. Beliau bercerita tentang suka duka jadi supir taksi selama 5 tahun. Karena beliau sering dapat shift malam, jadi penumpang yang dibawa kadang2 adalah perempuan2 nakal yang akan diantarkannya ke hotel untuk memenuhi kebutuhan para lelaki hidung belang. Tapi kadang juga yang sebaliknya, para lelaki hidung belang yang kata beliau kadang2 teridentifikasi sebagai pejabat pemerintah di kota ini yang hendak diantarkan ketempat2 para perempuan2 nakal itu biasa mangkal. Pernah juga beliau terlibat dalam pertikaian pasangan suami-istri yang menyebabkan kaca depan taksinya pecah karena dilempar dengan batu oleh si istri yang bertikai dengan suami yang diduganya berselingkuh. Ah, ada-ada saja ya...

Tapi kadang2 saya bertemu dengan supir taksi yang jauh dari kesan ramah. Walaupun saya tahu mereka diseleksi dengan ketat dan track record mereka selalu dipantau tapi itu tidak menjadi jaminan mereka bersikap baik dengan penumpang terutama dalam soal bayaran. Hampir rata2 mereka tidak pernah mengembalikan dengan uang pas dan ada saja alasannya. Tidak seperti cerita teman saya di Skotlandia yang katanya sang supir taksi menyediakan uang kembalian hingga satuan mata uang terkecil. Jadi kembalian selalu pas!

Karena selalu punya pengalaman dengan masalah uang kembalian, saya punya tabungan di rumah yang menampung uang receh dan siap saya bawa ketika menumpang taksi. Jadi saya khan tidak perlu menggerutu dengan masalah uang kembalian. Akan tetapi disaat lain, ketika saya menemukan supir taksi yang ramah selama perjalanan, saya tidak mempersoalkan dengan uang kembalian karena keramahan mereka kepada penumpang tidak dapat dihitung dengan uang pas ;)

Comments

Popular posts from this blog

Belajar memanah @ Baliwoso Camp

A Forest of Fables

Martha Stewart