Oleh-oleh

Minggu ini saya kebanjiran oleh-oleh. Temannya Khansa yang baru pulang dari Jogja membawakan oleh-oleh sekotak bakpia pathok. Tetangga saya yang juga baru pulang dari Jogja membawa sekotak bakpia pathok ditambah dengan sekotak yangko dengan berbagai macam rasa. Kemudian teman kami yang baru pulang dari diving trip ke Manado membawakan kacang goyang beserta manisan pala kegemaran saya.

Setiap kali melakukan perjalanan, oleh-oleh menjadi hal yang wajib buat saya. Saya senang melihat bagaimana mereka gembira menerima sesuatu yang saya bawa dan disebut oleh-oleh itu. Setiap kali mengunjungi desa di wilayah pesisir dimana saya, keluarga dan teman-teman biasa menghabiskan waktu akhir pekan, saya selalu membawa permen atau coklat, biskuit serta buah-buahan sebagai oleh-oleh untuk anak-anak serta beberapa teman disana. Anak-anak biasanya senang mendengarkan cerita tentang laut sambil makan permen, coklat ataupun biskuit. Sebaliknya, mereka memberikan satu atau dua botol minyak kelapa, ikan segar atau yang telah diasinkan serta cumi sebagai oleh-oleh untuk saya bawa pulang. Karena biasanya mereka memberi dalam jumlah banyak, ibu mertua biasanya kebagian jatah oleh-oleh tersebut.

Kalau tujuan perjalanannya adalah ke Sembalun di kaki Gunung Rinjani, biasanya oleh-oleh yang saya dapat adalah hasil-hasil pertanian seperti beras merah, bawang putih (Sembalun terkenal dengan sentra bawang putih) serta labu siam. Karena jumlah
yang dibawa tidak satu atau dua melainkan karungan, tidak hanyak ibu mertua yang dapat bagian, tetangga saya depan, kiri, kanan dan belakang rumahpun dapat bagian.

Ketika saya ke Bali, Jakarta ataupun Palembang, saya suka membawakan manisan rumput laut untuk teman atau keluarga yang saya kunjungi. Tapi kadang2 tahu, ayam taliwang serta kangkung segar (kangkung asal Lombok kerenyahannya mengalahi
kangkung cina lho) masuk dalam daftar sebagai oleh-oleh.

Begitu juga sekembalinya dari perjalanan, tidak ada cerita tanpa oleh-oleh. Yang paling repot adalah oleh-oleh dari Palembang. Palembang yang terkenal sebagai penghasil kerupuk menjadikan saya wajib membawa kerupuk sebagai oleh-oleh. Si Abi suka geleng-geleng kepala melihat daftar orang-orang yang wajib menerima oleh-oleh berupa kerupuk Palembang tadi. Mulai dari tetangga kanan-kiri, depan belakang, mertua, ipar, teman klub selam, teman jalan dan teman-teman lainnya.Bukannya apa-apa, kerupuk Palembang yang biasanya dipaket dalam satu kantong kertas besar ukuran sak semen 50kg menjadi repot karena memakan tempat. Walaupun ringan tapi tidak mungkin ditaruh dibagasi karena sudah pasti nasib si kerupuk bisa hancur. Bisa dibayangkan betapa repotnya Abi, Khansa dan Tsaqif membawanya, sedangkan saya...hmm, mengurus Azka dan Miska. Setelah kerepotan yang luar biasa itu, setiap kali ke Palembang, oleh-oleh kerupuknya saya kirimkan saja melalui ekspedisi yang aman sehingga si kerupuk tidak hancur. Sehingga saya, Abi ataupun anak-anak bisa melenggang dengan santai selama perjalanan pulang ke Lombok.

Kebiasaan memberi oleh-oleh mungkin turunan ibu saya. Ibu saya suka sekali memberi oleh-oleh setiap kami pergi liburan. Rasanya sama seperti saya, daftar penerima oleh-oleh bikin bapak geleng-geleng kepala. Tetangga kanan-kiri, muka-belakang
rumah, guru-guru TK temannya Ibu, teman-temannya bapak...hmm bisa dibayangkan khan.

Suatu ketika, saat kami habis pulang liburan dari Bandung, keripiknya Karya Umbi dan bagelennya Toko Abadi menjadi oleh-oleh buat semua orang yang masuk dalam daftar penerima oleh-oleh. Setelah oleh-oleh dibagi-bagikan, kok saya tidak melihat keceriaan diwajah ibu. Ternyata ada staff kantornya bapak yang rupanya orang baru yang tidak kebagian oleh-olehnya...nah lho?! Ibupun punya ide, beliau mengajak saya membeli dodol Garut berlabel Picnic yang cukup terkenal saat itu disatu-satunya Toko serba ada didalam kompleks perumahan kami. Rupanya Ibu tidak ingin mengecewakan si staff baru hanya karena dia tidak kebagian oleh-oleh.
Saya bilang, "dodol ini khan oleh-oleh khas Garut Bu, bukan dari Bandung"
Dengan enteng ibu saya menjawab "yang penting sama-sama oleh-oleh dari Jawa Baratnya khan"

Comments

Anonymous said…
read your blog, think you'd be really interested in this website

Popular posts from this blog

Belajar memanah @ Baliwoso Camp

A Forest of Fables

Martha Stewart