Wawancara

Saya termasuk orang yang hanya sedikit memiliki pengalaman wawancara. Hmm...rasanya bisa dihitung dengan jari. Pengalaman wawancara saya kebanyakan ketika saya duduk dibangku kuliah. Maklumlah saya termasuk mahasiswa yang tidak mau diam di kampus...hehehe. Banyak kegiatan yang mengharuskan saya mengikuti wawancara dulu sebelum bisa ikut bergabung.

Ketika memasuki dunia kerja, saya tidak mengalami wawancara segala. Maklum saya bekerja di LSM lokal, yang dalam akte pendiriannya, nama saya termasuk dalam badan pendirinya...hehehe.

Dan ketika saya dinyatakan lulus seleksi beasiswa dari pemerintah Selandia Baru, saya diharuskan untuk mengikuti wawancara dan IELTS test di Surabaya. Setelah kurun waktu lebih dari satu dekade, saya dihadapkan lagi dengan yang namanya wawancara.

Mulailah saya bertanya-tanya kepada teman2 yang sudah lulus beasiswa ini sebelumnya. Mereka bilang pada dasarnya harus yakin dengan bidang studi yang diambil dan apa yang akan dilakukan setelah studi nanti. Pada dasarnya itu saja kok, cerita Doel yang sedang mengambil program Doktor di Selandia Baru. Saya hanya bengong ketika membaca imelnya si Doel, haaa...hanya itu saja? Sebelum berangkat ke Surabaya, sayapun sempat dapat wejangan dari temennya Abi yang juga lulusan sebuah universitas di Selandia Baru. Dengan bekal wejangan2 yang cukup banyak, sayapun siap untuk wawancara.

Ketika menerima jadwal wawancara, saya diurutan nomer 2. Wah berarti tidak ada waktu untuk bertanya-tanya kepada kandidat lain. Waktu wawancara untuk yang mengambil program Masters adalah 30 menit plus 10 menit.

Saat briefing, kami sempat bertemu dengan salah satu orang yang akan mewawancarai kami, dia adalah orang dari kedutaan. Ketika bertemu, menurut penilaian saya, orangnya cukup baik. Kemudian dijelaskan bahwa selain orang kedutaan, ada seorang doktor dari IPB yang merupakan alumni universitas di Selandia Baru yang akan mewawancarai kami. Wah...doktor, orang IPB dan bermarga batak pula. Langsung bayangan saya pasti orangnya tegas dan membayangkan para pengacara2 yang bermarga batak (lho kok kesana ya bayangannya...) Maklum ketika briefing, kami tidak bertemu dengan bapak yang dari IPB itu.

Pagi hari sebelum wawancara, ini jantung kok berdetak kencang, belum lagi perasaan yang mulai kacau. Rasanya semua bekal wejangan tidak cukup untuk mengurangi perasaan saya yang tidak karuan. But the show must go on khan...

Saat kandidat pertama keluar ruangan, wah komentarnya menambah tidak karuan perasaan saya. Ketika nama saya dipanggil, dengan langkah diiringi do'a, saya masuk ruangan.
Ketika melihat si bapak yang dari IPB itu, kemudian bersalaman dan beliau mulai mengenalkan diri....waaah kok jauh dari bayangan saya. Bicaranya sangat halus seperti orang Jawa. Dan sayapun mulai merasa comfort. Saat wawancara berlangsung, selain bertanya, yang mewawancarai saya juga bercerita pengalaman mereka. Wah jadi senyum2 sendiri ketika mereka bercerita...ini wawancara atau bukan ya...hehehe.

Ketika keluar ruangan, senyum sayapun mengembang dipipi. Dan berucap syukur dalam hati bahwa wawancaranya sukses.

Dan ketika seorang kandidat dari Kupang ditanya perasaannya setelah wawancara, dengan ringan dia menjawab...

"wah, kalau wawancaranya seperti itu, saya mau lagi deh diwawancara..."

Comments

Popular posts from this blog

Belajar memanah @ Baliwoso Camp

Mesin cuci

Dokter kandungan atau bidan?