Jadi guru

Orangtua saya berprofesi sebagai guru. Bapak saya adalah guru olahraga dan geografi sedangkan ibu saya adalah guru TK. Walaupun profesinya guru, orangtua saya hidup berkecukupan. Tidak seperti cerita2 yang banyak kita dengar atau baca dimedia masa tentang nasib guru yang gajinya harus disunat atau bahkan tidak mendapatkan gaji dalam jangka waktu yang lama atau mereka yang harus mencari penghasilan tambahan untuk memenuhi kebutuhan hidup serta hidup dengan segala keterbatasan.

Sebagai guru yang mengajar pada sekolah diperusahaan multinasional didaerah Bontang, Kalimantan Timur, orangtua saya mendapatkan fasilitas yang sangat baik. Setelah pensiunpun, orangtua masih mendapatkan beberapa fasilitas dari perusahaan.

Walaupun bagi saya guru tidak identik dengan gaji kecil dan hidup prihatin, tapi saya tidak berminat atau bercita-cita menjadi guru. Kehidupan pinggir laut yang mulai akrab dengan saya ketika saya mulai memegang sertifikat junior openwater diver diusia 13 tahun membuat saya bercita-cita untuk menekuni bidang kelautan kelak. Ketika teman2 SMA saya memilih universitas2 besar di pulau Jawa sebagai tempat kuliahnya, pilihan saya untuk memilih universitas yang nyaris diujung timur Indonesia ini cukup menjadikan saya buah bibir diantara teman, guru dan orantua murid. Maklumlah, sekolah saya sekolah perusahaan yang notebene muridnya adalah hanya anak2 karyawan perusahaan itu dan saya sendiri satu angkatan tidak sampai 35 orang. Jadi wajar dong kalau jarum jatuhpun terdengar satu kompleks...hehehe.

Ketika jalan untuk menjadi seorang marine scientist tinggal satu langkah lagi, Allah memberikan jodoh buat saya. Kehadiran anak pertama membuat kehidupan sayapun berubah. Skripsi yang tadinya menjadi prioritas, saya ganti dengan prioritas anak. Buku2 referensi kelautanpun berubah dengan tumpukan buku2 cara merawat anak dan resep2 makanan untuk bayi dan balita. Kehadiran anak kedua yang hanya selang 1.4 tahun membuat prioritas skripsi saya drop hingga keurutan paling bawah. Rasanya saya tidak ingin lepas dari anak2 saya, menjaga dan merawat mereka, medidik mereka, mengajarkan mereka berbagai hal...tanpa saya sadari, rupanya saya telah menjadi guru bagi mereka.

Kondisi ini disadari oleh suami dan pembimbing saya. Akhirnya pembimbing saya mengijinkan saya untuk mengambil penelitian di Lombok. Ketika skripsi rampung, anak2 saya boyong ke ambon untuk beberapa bulan hingga saya ujian sarjana. Karena sempat kembali kedunia kampus untuk beberapa saat, keinginan saya lama saya untuk jadi seorang peneliti mulai bersemi lagi. Tapi rasanya terlalu idealis untuk menjadi peneliti kelautan yang harus tinggal cukup lama didaerah2 terpencil atau pulau2 atau berlayar hingga hitungan minggu untuk meneliti mamalia laut sesuai keinginan saya dulu.

Ada komunitas di wilayah pesisir yang kini menjadi perhatian saya, yaitu perempuan dan anak2. Anak2 yang setiap harinya mengkonsumsi hasil laut ini tumbuh besar dengan tingkat kesadaran akan lingkungannya yang minim. Terlintas keinginan untuk berbuat sesuatu. Saya ingin menumbuhkan nilai2 kecintaan dan kepedulian akan lingkungan diantara mereka.

Dan jadi guru adalah pilihannya...

Alhamdulillah, saya lulus seleksi tahap pertama beasiswa dari Pemerintah New Zealand. Rencananya saya akan mengambil Masters dibidang Curriculum Development and General Teaching. Tanggal 25-29 April saya akan ada di Surabaya untuk interview dan IELTS test. Dan mohon ma'af untuk sementara saya tidak bisa blogwalking karena saya harus belajar. Mohon do'anya ya :)

Comments

Popular posts from this blog

Belajar memanah @ Baliwoso Camp

Mesin cuci

Dokter kandungan atau bidan?