Another story about byar-pett

Dua hari yang lalu di Mataram berlangsung seminar bahasa dan sastra serumpun di Asia yang berarti negara2 seperti Indonesia, Singapura, Malaysia dan Brunei hadir dalam acara tersebut termasuk Jepang yang hadir sebagai peninjau.

Sebenarnya saya kurang menaruh perhatian karena saya tidak berkecimpung dalam bidang ini. Tapi saya jadi ikutan sibuk ketika salah satu peserta yang diundang adalah seorang anak SD kelas 5 bernama Amirah Dwi Septiana yang rupanya bertetangga dengan orang tua saya di Palembang. Amirah datang ditemani oleh kedua orang tua dan kakak perempuannya. Karena itulah saya merayu Ibu supaya mau menitipkan pempek kepada mereka. Dan rupanya merekapun tidak keberatan.

Mereka tiba hari Minggu sore tapi saya tidak bisa langsung bertemu karena malamnya mereka dijamu makan malam oleh gubernur. Tapi kita janjian untuk ketemu setelah itu sekitar jam 10 malam di hotel. Setelah bertemu, ternyata saudara2...titipan pempek dari Ibu yang hanya sebuat 1 dus kecil (malu hati dong kalo mo banyak2...hehehe) bertambah dengan 1 dus ukuran indomie yang juga berisi pempek serta 1 kantong seukuran kantong sak semen yang berisi kerupuk palembang. Ternyata lagi saudara2...orang tua Amirah adalah pengusaha pempek di Palembang. Hmm...rejeki nomplok!

Pulang ke rumah sudah sekitar jam 12 malam. Saya tidak bisa langsung tidur karena harus membongkar semua titipan pempek itu. Pempek yang dilumuri tepung kanji supaya awet dalam perjalanan harus saya cuci bersih dulu kemudian saya kukus sebentar baru bisa saya masukkan ke kotak tupperware. Lagi semangat2nya...si byar-pett kumat! Jam segitu sempat2nya kumat, agh! Akhirnya dengan ditemenin lilin 10 biji saya selesaikan acara di dapur hingga hampir jam setengah dua (saking banyaknya pempek tuh).

Cerita byar-pett tidak sampai disitu...

Hari Seninnya, Ibunya Amirah pengen ngerasain plecing kangkung yang sudah cukup heboh terdengar dikalangan peserta seminar. Malamnya saya ajak mereka makan malam disebuah restoran tradisional Sasak.

Sambil makan, ayahnya bercerita tentang acara pembukaan seminar di Grha Bakti Praja di kompleks gubernuran. Ketika acara sedang berlangsung, pada saat acara serah-terima apa gitu oleh wakil dari Brunei, tiba2...PETT! Listrik padam...huhuhu, bisa dibayangkan dong betapa paniknya si gubernur yang seharusnya menjadi tuan rumah yang baik bagi para tamu2nya. Mana pada saat acara itu TV Brunei menyiarkan secara langsung...wah! Dengan perasaan campur aduk, bapak gubernur menyuruh kepala PLN untuk menghadap didepan beliau sekarang juga!

Dan sayapun hanya bisa membayangkan nasib si kepala PLN...mudah2an tidak ikut2an byar-pett, ya Pak ;)

Comments

Popular posts from this blog

Belajar memanah @ Baliwoso Camp

Mesin cuci

Dokter kandungan atau bidan?